Spanyol Tundukkan Belgia, Rebut Tiket Semifinal Piala Dunia 2026

Stadion MetLife, New Jersey, bergemuruh pada Sabtu (11/7) dini hari WIB ketika wasit meniup peluit panjang. Skor akhir 2-1 untuk Spanyol atas Belgia memastikan satu tempat di babak semifinal Piala Dun...

Spanyol Tundukkan Belgia, Rebut Tiket Semifinal Piala Dunia 2026

Stadion MetLife, New Jersey, bergemuruh pada Sabtu (11/7) dini hari WIB ketika wasit meniup peluit panjang. Skor akhir 2-1 untuk Spanyol atas Belgia memastikan satu tempat di babak semifinal Piala Dunia 2026. La Furia Roja menampilkan permainan pragmatis namun klinis untuk menyingkirkan De Rode Duivels yang gigih. Dua gol di momen krusial menjadi pembeda, mengunci tiket keempat ke semifinal dalam sejarah partisipasi mereka di turnamen terakbar sepak bola ini.

Jalannya Pertandingan: Eksekusi Dingin di Babak Pertama

Sejak sepak mula, Belgia mencoba menguasai ritme dengan formasi 3-5-2 yang cair, mengandalkan lebar sayap dari Timothy Castagne dan Yannick Carrasco. Spanyol merespons dengan tekanan tinggi yang terstruktur dalam pakem 4-3-3 andalan Luis de la Fuente. Peluang pertama hadir pada menit ke-8 via Kevin De Bruyne yang melepaskan tembakan melengkung dari luar kotak penalti, namun Unai Simon dengan sigap menepis ke atas mistar. Memasuki menit ke-20, intensitas semakin meningkat. Tiga menit berselang, tepatnya pada menit ke-23, skema umpan pendek Spanyol memecah kebuntuan. Pedri, yang beroperasi sebagai gelandang serang, mengirim through ball terukur ke ruang kosong di belakang Jan Vertonghen. Alvaro Morata, dengan kecepatan dan insting predatornya, lolos dari jebakan offside, mengecoh Thibaut Courtois, dan menceploskan bola ke gawang kosong. Gol ke-41 Morata di level internasional ini menjadi fondasi keunggulan. Belgia bereaksi dengan meningkatkan penguasaan bola, namun lini belakang Spanyol yang dikomandoi Aymeric Laporte tampil disiplin. Babak pertama ditutup dengan skor 1-0.

Babak Kedua dan Drama Gol Balasan

Selepas jeda, pelatih Belgia Domenico Tedesco memasukkan Jeremy Doku untuk menambah daya dobrak. Perubahan itu hampir membuahkan hasil pada menit ke-54 ketika tembakan first-time Romelu Lukaku membentur mistar gawang dari umpan tarik Doku. Spanyol justru menggandakan keunggulan melalui skema serangan balik mematikan di menit ke-67. Lamine Yamal, yang baru masuk menggantikan Gavi, melakukan akselerasi dari sisi kanan, melewati Arthur Theate, lalu mengirim umpan cut-back ke kotak penalti. Nico Williams yang berdiri bebas tanpa pengawalan melepaskan tembakan keras kaki kanan yang menghujam pojok atas gawang Courtois. Assist brilian Yamal dan penyelesaian sempurna Williams membuat papan skor menjadi 2-0. Belgia pantang menyerah. Harapan mereka hidup pada menit ke-81 lewat sebuah momen kontroversial. Doku dijatuhkan di area terlarang oleh Dani Carvajal. Wasit sempat mengabaikan, namun VAR melakukan intervensi dan menunjuk titik putih. Kevin De Bruyne maju sebagai eksekutor dan mengecoh Simon dengan sepakan panenka yang dingin. Skor 2-1 menciptakan 10 menit terakhir yang mendebarkan. Belgia terus menggempur, namun solidnya blok pertahanan Spanyol dan kartu kuning untuk Rodri yang membuat lini tengah harus bermain lebih hati-hati, berhasil meredam tekanan. Puncaknya, penyelamatan gemilang Simon atas sundulan Lukaku di menit ke-90+3 memastikan kemenangan.

Statistik Utama dan Analisis Taktikal

Secara keseluruhan, Spanyol mengakhiri laga dengan penguasaan bola 58% berbanding 42%. Meski kalah penguasaan bola, Belgia mencatatkan total tembakan hampir setara: 14 tembakan untuk Belgia dan 13 untuk Spanyol. Perbedaan signifikan terletak pada shots on target, di mana Spanyol unggul 7 berbanding 4, mencerminkan efisiensi penyelesaian akhir yang menjadi kunci. Secara taktikal, keputusan Luis de la Fuente memainkan Pedri sebagai false-9 sesekali membingungkan duet bek tengah Belgia. Formasi 4-3-3 Spanyol bertransisi menjadi 4-2-3-1 saat menyerang, memungkinkan overload di zona antara lini tengah dan pertahanan lawan. Di sisi lain, Belgia terlalu bergantung pada kreativitas individual De Bruyne. Pergerakan Lukaku kerap terisolasi akibat rapatnya jarak antarpemain belakang Spanyol. Tiga tendangan sudut Belgia di sepuluh menit terakhir juga gagal dikonversi menjadi gol karena organisasi pertahanan udara Spanyol yang superior. Statistik expected goals (xG) pun menunjukkan betapa klinisnya La Roja: Spanyol mencatat 1.72 xG dari 7 shots on target, sedangkan Belgia 1.41 xG dari 14 tembakan total. Kartu kuning untuk Rodri (menit ke-76) dan Axel Witsel (menit ke-85) turut mewarnai tensi tinggi di lapangan, namun tidak ada kartu merah yang dikeluarkan. Pertandingan ini juga menandai pertama kalinya Spanyol mengalahkan Belgia di fase gugur turnamen besar sejak Piala Dunia 1994, sekaligus membalas kekalahan di perempat final Piala Dunia 1986. Kini, Spanyol tinggal menunggu pemenang antara Brasil dan Inggris untuk menentukan lawan di semifinal.

“Kami menunjukkan karakter juara hari ini. Para pemain menjalankan rencana permainan dengan sempurna, terutama dalam transisi. Saya sangat bangga dengan cara mereka mengelola tekanan di 15 menit terakhir,” ujar pelatih Spanyol, Luis de la Fuente, dalam konferensi pers pascalaga.

Di kubu lawan, Domenico Tedesco mengakui keunggulan lawan: “Kami kecewa karena kami layak mendapatkan lebih dari hasil ini. Tapi selamat untuk Spanyol, mereka memanfaatkan peluang dengan sangat baik. Itulah sepak bola. Kami akan bangkit.”

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User