Spanyol Juara Piala Dunia 2026, Messi Tertunduk di Laga Final

Skor akhir 2-1 untuk Spanyol atas Argentina menutup final Piala Dunia 2026 di MetLife Stadium, Senin (20/7) dini hari WIB, dan menyisakan satu gambar yang akan terus dikenang: kapten Argentina Lionel ...

Spanyol Juara Piala Dunia 2026, Messi Tertunduk di Laga Final

Skor akhir 2-1 untuk Spanyol atas Argentina menutup final Piala Dunia 2026 di MetLife Stadium, Senin (20/7) dini hari WIB, dan menyisakan satu gambar yang akan terus dikenang: kapten Argentina Lionel Messi tertunduk di tengah lapangan beberapa detik setelah peluit panjang berbunyi. La Pulga, yang tampil di usia 39 tahun, gagal mempertahankan trofi yang diraihnya di Qatar 2022, sementara Spanyol mengangkat gelar juara dunia kedua dalam sejarah mereka.

Gol-gol Lamine Yamal menit ke-34 dan Nico Williams menit ke-57 membawa La Roja unggul dua kali, sebelum Julián Álvarez menit ke-78 memperkecil kedudukan lewat assist Messi. Statistik akhir mencatat penguasaan bola 62 persen berbanding 38 persen untuk Spanyol, dengan shots on target 7 berbanding 4 dan total tembakan 16 berbanding 9.

Babak Pertama: Dominasi La Roja, Yamal Pecah Kebuntuan

Luis de la Fuente menurunkan starting XI dengan formasi 4-3-3: Unai Simón di bawah mistar; Dani Carvajal, Pau Cubarsí, Aymeric Laporte, Marc Cucurella di lini belakang; Rodri, Pedri, dan Dani Olmo di tengah; trisula Lamine Yamal, Álvaro Morata, Nico Williams di depan. Argentina merespons dengan 4-4-2 racikan Lionel Scaloni, menempatkan Messi sebagai penyerang bayangan di belakang Álvarez.

Menit ke-12, Pedri melepaskan umpan terobosan yang disambut tendangan pertama Morata, tetapi Emiliano Martínez masih sigap menepis. Menit ke-23, giliran Argentina mengancam lewat sepakan keras Rodrigo De Paul dari luar kotak penalti yang melambung tipis. Kebuntuan akhirnya pecah menit ke-34: Pedri membelah pertahanan dengan umpan diagonal, Yamal memotong ke dalam dari sisi kanan, lalu melepaskan tendangan melengkung kaki kiri ke tiang jauh. 1-0 untuk Spanyol.

Argentina mencoba merespons, tetapi kartu kuning De Paul menit ke-41 akibat pelanggaran terhadap Rodri memperlihatkan frustrasi Albiceleste. Babak pertama ditutup dengan penguasaan bola 65 persen milik Spanyol dan hanya satu tembakan tepat sasaran dari Argentina.

Babak Kedua: Williams Menggandakan, Álvarez Menghidupkan Asa

Menit ke-57, Spanyol menggandakan keunggulan. Berawal dari pergerakan Yamal di sayap kanan, pemuda 19 tahun itu mengirim umpan silang mendatar yang disambar Nico Williams dengan sontekan kaki kanan di tiang jauh. 2-0, dan assist itu melengkapi penampilan gemilang Yamal: satu gol, satu assist di final Piala Dunia.

Scaloni bereaksi dengan memasukkan Lautaro Martínez dan Alejandro Garnacho, mengubah struktur menjadi lebih agresif. Menit ke-71, Lautaro sempat menjebol gawang Unai Simón, tetapi VAR menganulir gol tersebut karena offside — keputusan yang membuat bench Argentina meluapkan protes keras. Kartu kuning Dani Olmo menit ke-63 menjadi satu-satunya hukuman bagi Spanyol di babak kedua.

Asa Argentina akhirnya menyala menit ke-78. Messi menerima bola di antara lini, berputar melewati Rodri, lalu mengirim umpan terukur ke pergerakan Julián Álvarez yang menuntaskannya dengan tendangan mendatar. 2-1. Sepuluh menit terakhir menjadi tekanan total: menit ke-89, sundulan Nicolás Otamendi dari sepak pojok Messi masih ditepis brilian oleh Unai Simón — penyelamatan yang kemudian disebut sebagai momen penentu gelar.

Angka di Balik Laga: Efisiensi Melawan Penguasaan

Statistik penuh memperlihatkan cerita menarik. Spanyol mencatat 612 umpan sukses dengan akurasi 89 persen, jauh di atas Argentina yang hanya melepaskan 374 umpan. Namun Argentina unggul dalam duel udara (58 persen) dan mencatat 19 tekel sukses, tanda mereka bertarung habis-habisan secara fisik. Rodri menjadi metronom dengan 104 sentuhan dan 92 umpan sukses, sementara Messi membukukan 4 umpan kunci dan 1 assist meski hanya melepaskan 2 tembakan.

Secara taktik, pressing tinggi Spanyol memaksa Argentina membangun serangan dari sisi sayap, memutus suplai bola ke Messi di zona favoritnya. De la Fuente memenangi duel taktik melawan Scaloni dengan kesabaran penguasaan bola khas La Roja yang dieksekusi nyaris sempurna sepanjang 90 menit.

Messi Tertunduk: Akhir Sebuah Era?

Kamera televisi menangkap momen emosional itu: Messi berdiri membungkuk, kedua tangan di pinggang, menatap rumput MetLife selama hampir setengah menit sebelum rekan-rekannya menghampiri. Pada usia 39 tahun, ini hampir pasti menjadi laga Piala Dunia terakhirnya — penampilan ke-30 di turnamen ini sepanjang kariernya, dengan catatan 14 gol.

"Leo sudah memberikan segalanya untuk jersey ini. Malam ini bukan tentang kekalahan, tetapi tentang warisan yang ia tinggalkan," ujar Scaloni dalam konferensi pers pascalaga. Sementara De la Fuente memuji lawannya: "Menghadapi Messi adalah ujian terberat dalam sepak bola. Kami menghormatinya, tapi malam ini milik Spanyol."

Spanyol pun mengangkat trofi Piala Dunia kedua mereka setelah 2010, sementara Argentina harus puas sebagai runner-up. Bagi Messi, malam di New Jersey ini mungkin menjadi babak penutup dari kisah terbesar dalam sejarah sepak bola modern.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
reza-pahlevi

Reporter Pengadilan. Meliput kasus-kasus landmark di PN, PT, dan MA.

Comments (0)

User