Spanyol Juara, Kalahkan Argentina 2-1 di Final Dramatis

Piala Dunia FIFA 2026 resmi bertabur bintang baru. Di hadapan 82.500 penonton yang memadati Stadion New York New Jersey, Spanyol mengunci gelar juara dunia kedua dalam sejarah mereka setelah menundukk...

Spanyol Juara, Kalahkan Argentina 2-1 di Final Dramatis

Piala Dunia FIFA 2026 resmi bertabur bintang baru. Di hadapan 82.500 penonton yang memadati Stadion New York New Jersey, Spanyol mengunci gelar juara dunia kedua dalam sejarah mereka setelah menundukkan Argentina dengan skor 2-1 dalam laga final yang penuh tensi tinggi, Sabtu (19/7) malam waktu setempat. Gol kemenangan La Roja dicetak oleh wonderkid Lamine Yamal dan Pedri, sementara satu-satunya gol balasan Albiceleste datang dari penalti Lautaro Martínez.

Babak Pertama: Dominasi Spanyol dan Gol Cepat Yamal

Sejak peluit kick-off dibunyikan, Spanyol langsung mengambil inisiatif. Formasi 4-3-3 racikan pelatih Luis de la Fuente menekan lini pertahanan Argentina yang dikawal Nicolás Tagliafico dan Cristian Romero. Statistik penguasaan bola mencapai 62% untuk Spanyol di 20 menit awal, sebuah angka yang menggambarkan betapa sulitnya Argentina keluar dari tekanan.

Menit ke-8, Lamine Yamal yang beroperasi di sisi kanan sudah menunjukkan ancaman lewat dribel melewati Alexis Mac Allister. Namun, tembakan melengkungnya masih bisa ditepis kiper Emiliano Martínez. Petaka bagi Argentina akhirnya datang di menit ke-17. Berawal dari skema one-two cepat antara Yamal dan Dani Olmo, bola liar di kotak penalti jatuh tepat di kaki Yamal. Dengan tenang, penyerang berusia 19 tahun itu melepaskan tendangan mendatar yang menusuk pojok kiri gawang. Skor berubah 1-0 untuk Spanyol. Gol tersebut menjadi gol kelima Yamal sepanjang turnamen, menyamai rekor pencetak gol termuda di final Piala Dunia.

Argentina mencoba merespons lewat serangan balik cepat. Menit ke-31, Julián Álvarez nyaris menyamakan kedudukan andai sundulannya tidak membentur mistar gawang setelah menerima umpan silang Ángel Di María. Hingga turun minum, Spanyol tetap unggul 1-0 dengan catatan tiga shots on target berbanding satu milik Argentina.

Babak Kedua: Drama Penalti dan Gol Penentu Pedri

Memasuki babak kedua, pelatih Lionel Scaloni memasukkan Leandro Paredes untuk menambah daya gedor. Hasilnya, Argentina tampil lebih agresif. Puncaknya di menit ke-58, wasit menunjuk titik putih setelah Alejandro Balde dinyatakan melakukan handball di kotak terlarang hasil review VAR. Lautaro Martínez yang menjadi eksekutor sukses mengecoh Unai Simón. Skor imbang 1-1.

Energi Argentina meningkat drastis. Mac Allister dan Enzo Fernández menguasai lini tengah, membuat Spanyol terlihat kewalahan. Namun, De la Fuente dengan cerdik memasukkan Gavi dan Ferran Torres untuk menyegarkan serangan. Keputusan itu membuahkan hasil di menit ke-76. Dari sebuah kemelut di depan gawang, bola liar disambar Pedri dengan tembakan voli first-time dari luar kotak penalti. Bola meluncur deras tak terjangkau Emiliano Martínez. Gol kedua Spanyol itu tercipta dari total 14 shots sepanjang laga, dengan 7 di antaranya tepat sasaran.

Argentina mati-matian mencari gol penyeimbang. Menit ke-84, Di María mendapat peluang emas dari skema tendangan bebas, namun penyelamatan gemilang Unai Simón menggagalkannya. Hingga delapan menit injury time, skor 2-1 tetap bertahan. Spanyol mencatatkan clean sheet di babak pertama dan hanya kebobolan lewat penalti, menunjukkan solidnya lini belakang yang digalang Pau Cubarsí dan Aymeric Laporte.

Pemain Kunci dan Statistik Akhir

Lamine Yamal dinobatkan sebagai Man of the Match. Selain satu gol, ia mencatatkan akurasi operan 89%, empat dribel sukses, dan dua key passes. Di kubu Argentina, Alexis Mac Allister sebenarnya tampil impresif dengan tiga tekel sukses dan 92% akurasi umpan, namun kurangnya dukungan di lini depan membuat usahanya sia-sia.

Statistik pertandingan memperlihatkan penguasaan bola Spanyol 55% - 45% Argentina, total shots 14-9, dan tendangan pojok 5-2. Kartu kuning diberikan kepada Nicolás Tagliafico (menit 41) dan Leandro Paredes (menit 67). Pertandingan berjalan keras dengan 23 pelanggaran total, namun tetap dalam koridor sportivitas.

"Saya tidak bisa berkata apa-apa selain bangga. Lamine adalah talenta istimewa, tapi hari ini seluruh tim menunjukkan karakter juara. Ini kemenangan untuk semua rakyat Spanyol," ujar Luis de la Fuente dalam konferensi pers usai laga.

Kemenangan ini melengkapi dominasi Spanyol sepanjang turnamen. Dengan skuad muda bertabur bintang, masa depan La Roja tampak cerah. Sementara bagi Argentina, kegagalan di final menjadi akhir pahit dari era keemasan Lionel Messi yang absen karena cedera ringan. Kini, mata dunia tertuju pada perayaan di Madrid—dan nama-nama seperti Yamal, Pedri, dan Gavi yang siap mewarnai sepak bola dunia selama satu dekade ke depan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User