Spanyol Cetak Dua Rekor Usai Kandaskan Prancis Semifinal 2026

Skor akhir 3-1 untuk La Roja memastikan langkah Spanyol ke final Piala Dunia 2026 sekaligus menumbangkan Les Bleus dalam laga yang berlangsung di Estadio Azteca, Kamis dini hari WIB. Kemenangan ini bu...

Spanyol Cetak Dua Rekor Usai Kandaskan Prancis Semifinal 2026

Skor akhir 3-1 untuk La Roja memastikan langkah Spanyol ke final Piala Dunia 2026 sekaligus menumbangkan Les Bleus dalam laga yang berlangsung di Estadio Azteca, Kamis dini hari WIB. Kemenangan ini bukan sekadar tiket ke partai puncak — Spanyol mengukir dua catatan bersejarah yang akan dikenang sebagai tonggak baru dominasi mereka di panggung global.

Babak Pertama: Gol Kilat dan Disiplin Formasi 4-3-3

Menit ke-8, kombinasi umpan pendek khas tiki-taka modern membuahkan hasil. Nico Williams menusuk dari sayap kiri, melakukan overlap cerdas sebelum mengirim umpan tarik ke kotak penalti. Lamine Yamal, yang berdiri tanpa kawalan di tiang jauh, menceploskan bola dengan tendangan first time yang tak mampu dijangkau Mike Maignan. Gol tersebut menjadikan Yamal sebagai pencetak gol termuda dalam sejarah semifinal Piala Dunia — memecahkan rekor yang sebelumnya dipegang legenda Brasil, Pelé, sejak 1958. Statistik penguasaan bola langsung mencatat dominasi Spanyol: 67 persen berbanding 33 persen pada 20 menit pertama.

Prancis bereaksi cepat. Menit ke-16, Kylian Mbappé nyaris menyamakan skor melalui skema serangan balik kilat, namun tendangan melengkungnya membentur mistar gawang setelah melewati Unai Simón. Pelatih Didier Deschamps menginstruksikan transisi lebih agresif, memanfaatkan kecepatan Ousmane Dembélé di sektor kanan. Meski demikian, duet bek tengah Pau Cubarsí dan Robin Le Normand tampil solid, mencatat tujuh intersep dan empat tekel bersih sepanjang babak pertama. Formasi 4-3-3 Spanyol bertransformasi menjadi 4-5-1 saat bertahan, dengan Pedri dan Gavi turun membantu lini belakang — taktik yang membuat Prancis gagal mencatatkan satu pun shots on target hingga menit ke-35.

Menit ke-41, Spanyol menggandakan keunggulan. Sepak pojok dari kaki kanan Pedri melayang ke tiang dekat, disambut tandukan terukur Álvaro Morata yang lolos dari kawalan William Saliba. Bola menghujam deras ke sudut kiri bawah gawang. Skor 2-0 bertahan hingga turun minum. Opta mencatat: Spanyol menciptakan sembilan peluang, empat di antaranya mengarah ke gawang, sementara Prancis hanya menghasilkan tiga peluang dengan akurasi nol shots on target.

Babak Kedua: Gol Penutup Rekor, VAR, dan Kartu Kuning

Deschamps memasukkan Randal Kolo Muani dan Eduardo Camavinga begitu babak kedua dimulai, mengubah formasi menjadi 4-2-3-1 yang lebih ofensif. Perubahan ini sempat menciptakan tekanan intens: Prancis mencatat penguasaan bola 52 persen dalam 15 menit awal babak kedua, sesuatu yang jarang terjadi menghadapi Spanyol. Tendangan spekulasi Aurélien Tchouaméni dari luar kotak penalti pada menit ke-56 masih melambung tipis.

Namun, Spanyol kembali memamerkan efisiensi klinis. Menit ke-68, Dani Olmo yang baru masuk menggantikan Morata langsung mencatatkan namanya di papan skor. Menerima through ball presisi dari Pedri, Olmo melewati Saliba dengan gerakan body feint sebelum melepaskan tembakan rendah ke tiang jauh. Skor 3-0. Asistensi Pedri dalam laga ini menjadi yang ketiga sepanjang turnamen, menegaskan statusnya sebagai playmaker dengan expected assists (xA) tertinggi di Piala Dunia 2026.

Prancis mendapat hadiah hiburan melalui titik putih. Menit ke-79, VAR mengonfirmasi pelanggaran Cubarsí terhadap Mbappé di area terlarang — kaki bek muda Barcelona itu terlambat menarik diri. Mbappé mengeksekusi sendiri penalti dengan dingin, mengecoh Unai Simón yang bergerak ke kiri. Gol ini hanya menjadi statistik; momentum tetap milik Spanyol. Wasit mengeluarkan kartu kuning untuk Cubarsí (menit ke-79) dan Camavinga (menit ke-85) setelah duel sengit di lini tengah.

Delapan menit injury time tak mengubah keadaan. Peluit panjang berbunyi: Spanyol menang 3-1. Statistik akhir menunjukkan total penguasaan bola 61-39 persen, 16 percobaan (7 on target) berbanding 10 (2 on target), serta akurasi umpan 89 persen — cerminan superioritas La Roja sepanjang 90 menit.

Dua Rekor Bersejarah: Gol Termuda dan Kemenangan Terbesar

Rekor pertama milik Lamine Yamal. Di usia 18 tahun 11 bulan, pemain sayap Barcelona itu kini menyandang status pencetak gol termuda dalam sejarah semifinal Piala Dunia, melampaui Pelé (17 tahun di final 1958, tetapi 18 tahun lebih tua di semifinal turnamen yang sama). Gol menit ke-8 tersebut juga menjadikan Yamal sebagai pemain termuda yang mencetak gol di fase gugur Piala Dunia dalam 68 tahun terakhir.

Rekor kedua bersifat kolektif: kemenangan 3-1 ini merupakan margin terbesar Spanyol dalam semifinal Piala Dunia sepanjang sejarah partisipasi mereka. Sebelumnya, kemenangan semifinal terbaik La Roja adalah 1-0 atas Jerman di Afrika Selatan 2010 — gol tunggal Carles Puyol. Kini, dengan selisih dua gol melawan finalis 2018 dan 2022, tim asuhan Luis de la Fuente menulis ulang standar superioritas di fase krusial.

Spanyol kini menanti lawan di final: pemenang antara Argentina dan Inggris. Apapun hasilnya, dua rekor ini telah menempatkan generasi baru La Roja dalam buku emas Piala Dunia.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
vina-melati

Data Journalist Hukum. Visualisasi data kejahatan dan analisis tren kriminal.

Comments (0)

User