Sorloth Dikambinghitamkan usai Norwegia Tersingkir di Tangan Inggris

Doha, 4 Juli 2026 – Piala Dunia 2026 menyajikan drama perempat final yang akan dikenang oleh publik Norwegia sebagai malam kelam penuh penyesalan. Norwegia takluk 1-2 dari Inggris di Stadion Lusail,...

Sorloth Dikambinghitamkan usai Norwegia Tersingkir di Tangan Inggris

Doha, 4 Juli 2026 – Piala Dunia 2026 menyajikan drama perempat final yang akan dikenang oleh publik Norwegia sebagai malam kelam penuh penyesalan. Norwegia takluk 1-2 dari Inggris di Stadion Lusail, menghentikan langkah generasi emas yang dipimpin Erling Haaland. Namun, alih-alih berduka karena kegagalan kolektif, kemarahan pendukung justru terpusat pada satu nama: Alexander Sorloth.

Penyerang Atletico Madrid itu menjadi pesakitan setelah sebuah keputusan egois di menit ke-72. Dalam kedudukan 1-1, Norwegia mendapat peluang emas serangan balik. Martin Odegaard mengirim umpan terobosan yang membelah pertahanan Inggris. Sorloth berhasil lolos dari jebakan offside dan tinggal menghadapi kiper Jordan Pickford. Namun, di sisi kirinya, Erling Haaland sudah menanti tanpa pengawalan. Sebuah operan pendek saja sudah cukup untuk menciptakan gol yang hampir pasti. Tetapi Sorloth memilih menembak, dan bola melebar tipis di sisi gawang. Hanya delapan menit berselang, Harry Kane menyundul gol kemenangan, mengubah sorakan menjadi keheningan.

Statistik Laga: Dominasi Inggris yang Efektif

Penguasaan bola Inggris mencapai 58 persen, berseberangan dengan Norwegia yang hanya 42 persen. The Three Lions total melepaskan 14 tembakan dengan 6 mengarah ke gawang, sedangkan Norwegia hanya 7 tembakan dengan 3 tepat sasaran. Dari segi umpulan, Inggris menorehkan akurasi 89 persen dari 594 operan, mengungguli Norwegia yang mencatat 83 persen dari 429 operan.

Statistik expected goals (xG) juga menunjukkan fakta pahit: 2,14 untuk Inggris dan 1,48 untuk Norwegia. Artinya, meskipun Haaland dan kolega punya peluang, kualitas penyelesaian akhir dan keputusan di sepertiga akhir lapangan—tepatnya kegagalan operan Sorloth—menjadi pembeda. Peluang Haaland yang tak mendapat bola itu semestinya menambah 0,8 xG bagi Norwegia, sebuah angka yang sangat berharga di laga sekencang ini.

Analisis Per Babak: Solid di Awal, Runtuh di Akhir

Norwegia mengawali laga dengan formasi 4-4-2 yang cukup rapat. Solbakken menempatkan Odegaard di sayap kanan dengan kebebasan masuk ke tengah, sementara Berge dan Thorstvedt menjadi jangkar ganda. Di babak pertama, Norwegia mampu meredam ancaman Bukayo Saka dan Marcus Rashford, meski akhirnya kebobolan di menit ke-34 melalui aksi individu brilian Jude Bellingham yang diakhiri penyelesaian tenang Kane dari luar kotak penalti. Skor 0-1 bertahan hingga turun minum.

Memasuki babak kedua, Norwegia meningkatkan intensitas dan mendapat hadiah penalti pada menit ke-55 setelah John Stones menjatuhkan Haaland di kotak terlarang. Haaland sendiri yang mengeksekusi dan menyamakan kedudukan 1-1. Momen ini sempat membangkitkan semangat tim. Namun, keputusan buruk Sorloth di menit ke-72 mengubah segalanya. Setelah kegagalan itu, Norwegia seperti kehilangan fokus. Inggris memanfaatkan momentum dengan serangan bertubi-tubi, dan akhirnya Kane mencetak gol keduanya di menit ke-80, menyambut umpan silang Saka dari kanan.

Taktik dan Susunan Pemain: Pilihan Solbakken yang Kini Dipertanyakan

Starting XI Norwegia: Nyland; Ryerson, Ostigard, Orejnik, Bjorkan; Odegaard, Berge, Thorstvedt (70' Aursnes), Elyounoussi; Sorloth, Haaland. Sementara Inggris: Pickford; James, Stones, Guehi, Shaw; Rice, Bellingham; Saka, Foden (77' Palmer), Rashford (82' Grealish); Kane.

Keputusan Solbakken memasang duo Haaland-Sorloth di depan sudah menjadi perdebatan sejak fase grup. Keduanya sama-sama postur tinggi dan kurang lincah, tetapi minim kreativitas dalam membuka ruang. Odegaard lebih sering sebagai kreator, namun minim dukungan dari lini kedua. Di laga ini, kritik terkait kegagalan adaptasi taktik setelah gol balasan menjadi sorotan. Banyak yang menilai Solbakken terlambat melakukan pergantian pemain untuk menyegarkan lini serang.

Kutipan Pelatih dan Reaksi Publik

“Kami kalah karena detail kecil. Saya tidak akan menyalahkan satu pemain. Sepak bola adalah permainan tim, dan kami kalah bersama,” kata Solbakken dalam konferensi pers. Namun publik tidak sama bijaknya. Di media sosial, nama Sorloth menjadi trending dengan lebih dari 2,3 juta cuitan dalam dua jam setelah peluit akhir. Mantan pemain timnas, John Carew, bahkan menyebutnya sebagai “momen paling egois dalam sejarah sepak bola Norwegia.”

Alexander Sorloth sendiri menyampaikan permintaan maaf. “Saya minta maaf kepada Erling, tim, dan seluruh Norwegia. Saya pikir saya bisa mencetak gol, tetapi saya salah menilai. Ini akan menghantui saya selamanya,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

Sementara itu, Erling Haaland yang tampak frustrasi memilih bungkam. Ia hanya menggelengkan kepala saat meninggalkan lapangan. Dengan 3 gol sepanjang turnamen, ia tetap menjadi andalan, tetapi kegagalan mencapai semifinal akan menjadi luka bagi generasi emas ini. Apakah ini akhir dari era keemasan Norwegia? Atau justru awal dari pelajaran berharga? Hanya waktu yang akan menjawab.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User