Smelter Kedua Freeport di Gresik Resmi Operasional, Kapasitas Gabungan Capai 3 Juta Ton Konsentrat Tembaga Per Tahun

Smelter kedua PTFI di Gresik resmi operasional kembali bersama PT Smelting, capai kapasitas 3 juta ton/tahun. Tony Wenas: pusat pemurnian terbesar di sejarah hilirisasi Indonesia. Produksi target 65% tahun ini, 100% 2027. Kontribusi negara target Rp 120 triliun.

Smelter Kedua Freeport di Gresik Resmi Operasional, Kapasitas Gabungan Capai 3 Juta Ton Konsentrat Tembaga Per Tahun

Kawasan Khusus Ekonomi (KEK) JIIPE di Gresik, Jawa Timur, tengah menjadi sorongan perhatian strategis dalam industri mineral Indonesia. Smelter kedua PT Freeport Indonesia (PTFI) di lokasi ini telah resmi siap kembali beroperasi, menyambut peningkatan kapasitas pemurnian mineral tembaga secara signifikan. Keberadaan smelter ini menandai moment penting dalam upaya menghadirkan pusat pemurnian mineral tembuga terbesar dalam sejarah hilirisasi Indonesia, sebagaimana disclosure Ketua Presiden Direktur PTFI Tony Wenas di saat kunjanya ke Tembagapura, Papua Tengah.

Sebelum menempa operasi semula, perlu diingatkan bahwa smelter pertama yang dioperasikan oleh PT Smelting sebelumnya mengalami gangguan teknis dan berhenti beroperasi sejak 8 Agustus 2026. Kondisi ini membuat alur produksi konsentrat tembaga terputus sementara. Sebagai korporasi yang menggenggam 66% saham di PT Smelton, sedangkan 34% lainnya dimiliki oleh Mitsubishi Materials Corporation, PTFI memiliki peran sentral dalam memastikan kelancaran integrasi kedua fasilitas ini.

Smelter kedua PTFI sebelumnya dihentikan beroperasi sejak kuartal IV 2025 karena kendala serius dalam pasokan konsentrat. Akibatnya, insiden longsor di tambang bawah tanah kawasan Grasberg Block Cave (GBC) di Tembagapura mengganggu alur penggalian dan pengangkatan bahan baku. Kejadian ini menimbulkan kekosongan stok yang memaksa penumpusan aktivitas di fasilitas Gresik. Secara total, kapasitas produksi gabungan fasilitas di Gresik mampu mencapai 3 juta ton konsentrat tembaga per tahun, jumlah yang menjadi target maksimal dalam peningkatan nilai tambah domestik.

"

"Saat ini smelter PTFI di Gresik telah siap untuk beroperasi kembali dan bersama smelter PT Smelting yang juga kita miliki akan memiliki kapasitas pemurnian 3 juta ton konsentrat tembaga setiap tahun," kata Tony Wenas di kawasan Sporthall Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, Senin (17/8/2026).

"

Menurut Tony, kombinasi kapasitas kedua smelter tersebut menjadikan Gresik sebagai pusat pemurnian mineral tembaga terbesar dalam seluruh sejarah pemerataan sumber daya alam di Indonesia. Ia menambahkan bahwa pengoperasian kedua smelter ini merupakan bentuk komitmen nyata PTFI untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam di dalam negeri, sekaligus memperkuat grundah industri nasional yang bergantung pada mineral ini.

"

"Pencapaian ini menjadikan Gresik sebagai pusat pemurnian mineral tembaga terbesar dalam sejarah hilirisasi Indonesia. Dan ini juga menegaskan komitmen nyata PTFI dalam meningkatkan nilai tambah sumber daya alam di dalam negeri untuk pertumbuhan industri nasional," terang Tony.

"

Pada kesempatan itu, Tony juga mengungkap proyeksi produksi untuk tahun berjalan. Meski fasilitas sudah siap, proyeksi produksi PTFI untuk tahun ini hanya mencapai sekitar 65% dari kapasitas total. Meskipun angka ini tergolong konservatif, kontribusi yang diberikan Freeport ke k negara telah diperkirakan mampu menembus ambang Rp 47 triliun. Nilai ini sudah mencerminkan dampak ekonomi signifikan yang dihasilkan oleh operasi smelter ini.

"

"Kalau sudah 100% kontribusi kepada negara bisa luar biasa besar, lebih dari Rp 100 triliun, mungkin Rp 120 triliun setiap tahunnya. Jadi itulah kontribusi Freeport kepada negara," kata Tony di Sporthall Tembagapura, Senin (17/8/2026).

"

Tony menambahkan strategi peningkatan produksi yang realistis namun agresif. Pada semester I 2027, produksi diketargetkan naik menjadi 75% dari kapasitas total. Target ini kemudian ditingkatkan menjadi 100% pada semester II 2027. Dengan peningkatan tingkat operasi yang sejalan tersebut, kontribusi negara juga diproyeksikan naik signifikan hingga Rp 120 triliun per tahun.

Tahapan produksi bertahap ini diharapkan dapat memastikan kestabilan alur konsentrat masuk ke dalam smelter, sekaligus meminimalkan risiko gangguan teknis atau logistik yang pernah dialami pada akhir 2025. Penyesuaian operasi ini juga merupakan respons terhadap upaya pemerintah untuk memaksimalkan pendapatan dari sektor pertambangan dan pemurnian mineral.

  • Kapasitas Produksi Gabungan: 3 juta ton konsentrat tembaga per tahun.
  • Saham PT Smelting: 66% dimiliki PTFI, 34% oleh Mitsubishi Materials Corporation.
  • Status Smelter Pertama (PT Smelting): Berhenti sejak 8 Agustus 2026 akibat gangguan teknis.
  • Status Smelter Kedua (PTFI): Berhenti sejak kuartal IV 2025 akibat insiden longsor di Grasberg Block Cave (GBC).
  • Proyeksi Produksi: 65% tahun ini, 75% semester I 2027, 100% semester II 2027.
  • Kontribusi Ke Negara: Sekarang proyeksi Rp 47 triliun, capai Rp 120 triliun saat 100% produktivitas.

Kebangkitan operasi smelter kedua ini bukan hanya menjadi soal teknis produksi, tetapi juga menjadi lambang perubahan gaya pengelolaan sumber daya alam di Indonesia. Dengan memiliki dua fasilitas pemurnian di Gresik yang dapat bekerja berdampingan, PTFI memperkuat posisi Indonesia di peta pemroses mineral tembaga global. Keberhasilan integrasi kedua smelter ini juga akan menjadi acuan bagi perusahaan lainnya dalam memaksimalkan nilai tambah domestik dari bahan galian yang ditambang di tanah kelam Papua.

Sebagai tambahan, Tony Wenas menekankan bahwa komitmen ini tidak berhambi hanya pada angka produksi dan pendapatan negara. Sasaran utama PTFI adalah menciptakan ekosistem industri yang berkelanjutan, di mana setiap tahap dari penggalian hingga pemurnian dapat memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat setempat dan ekonomi nasional. Dengan target mencapai operasi penuh pada pertengahan 2027, industri mineral Indonesia tampak siap menghadapi tantangan global dengan kapasitas dan kompetensi yang lebih kuat.

Proses pulih ini juga menuntut koorperasi erat antara perusahaan, pihak regulator, serta komunitas lokal. Dengan menghadapi tantangan longsor di GBC sebagai pembelajaran, PTFI menunjukkan responsifitas dalam mengatasi halangan logistik dan teknis, sekaligus menjalin lebih erat hubungan dengan mitra usaha seperti Mitsubishi Materials Corporation. Harmoni ini dianggap krusial untuk menjamin bahwa kapasitas 3 juta ton per tahun tidak hanya menjadi angka di laporan, tetapi menjadi realitas operasional yang berkelanjutan.

Makna Strategis bagi Industri Nasional

Kembali operasi smelter kedua di Gresik memiliki impliasi luas di luar laporan keuangan. Ini menandai nyilinya pergeseran strategis di mana Indonesia lebih tidak hanya sebagai produsek tambang mentah, tetapi sebagai pemain aktif dalam pengolahan dan pemurnian mineral di tingkat global. Kapasitas gabungan 3 juta ton per tahun jika tercapai sepenuhnya pada 2027, diharapkan dapat menjadi katalis dalam menarik investasi ke downstream industri mineral di seluruh Pulau Jawa dan wilayah sekitarnya.

Selain itu, peningkatan kontribusi ke negara hingga Rp 120 triliun tahunan akan memberikan ruang manuever signifikan bagi pemerintah dalam mengalokasikan sumber daya untuk pembangunan infrastruktur, pendidikan, serta program kesehatan. Asosiasi antara keberhasilan operasi smelter dengan pertumbuhan ekonomi makro menunjukkan seberapa kuat integrasi sektor pertambangan dengan pembangunan negara berkelanjutan.

Secara keseluruhan, kebangkitan smelter kedua PTFI di Gresik bukan sekadar pengembalian status quo, melainkan lonjakan kuat menuju visi Indonesia sebagai hub pemurnian mineral terkemuka. Dengan proyeksi produksi yang terstruktur, komitmen nilai tambah domestik, dan kontribusi fiskal yang monumental, momen ini akan dicatat sebagai landmark dalam evolusi industri mineral Indonesia bagi generasi mendatang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User