Scaloni: Messi Masih Nomor Satu Selagi Motivasi Menyala

Di usianya yang ke-39, Lionel Messi kembali membuktikan bahwa keajaiban tak mengenal batas angka. Dini hari tadi, La Pulga mencetak dua gol krusial dalam kemenangan 3-0 Argentina atas rival abadinya d...

Scaloni: Messi Masih Nomor Satu Selagi Motivasi Menyala

Di usianya yang ke-39, Lionel Messi kembali membuktikan bahwa keajaiban tak mengenal batas angka. Dini hari tadi, La Pulga mencetak dua gol krusial dalam kemenangan 3-0 Argentina atas rival abadinya di Kualifikasi Piala Dunia, sekaligus menegaskan bahwa warisannya belum akan berakhir dalam waktu dekat. Skor akhir 3-0 itu tercipta melalui gol Messi pada menit ke-16 dan menit ke-74, plus satu gol tambahan dari Julian Alvarez yang memanfaatkan umpan terukur sang kapten.

Dominasi Statistik yang Tak Terbantahkan

Angka tak pernah berbohong, dan lembar statistik laga ini adalah saksi bisu superioritas Messi. Sepanjang 90 menit, Argentina mencatatkan penguasaan bola 61 persen dengan total operan mencapai 598, 87 persen di antaranya akurat. Dari tiga shots on target yang dilepaskan Messi, dua bersarang mulus ke gawang lawan. Ia juga mencatatkan dua dribel sukses dan tiga umpan kunci—salah satunya berbuah assist untuk gol Alvarez. Menurut Opta, ini adalah kali ke-12 Messi mencetak brace di Kualifikasi Piala Dunia sepanjang kariernya, memperpanjang rekor yang sudah ia pegang sejak 2017.

Yang membuat penampilan ini semakin istimewa adalah konteks usia. Di menit ke-74, ketika banyak pemain seusianya sudah kehabisan bensin, Messi justru melepaskan akselerasi dari lini tengah, melewati dua bek, dan menyelesaikan dengan tendangan chip dingin yang mengingatkan publik pada gol legendarisnya di final Copa America 2021. Data dari FIFA mencatat, dalam 15 menit terakhir laga, Messi masih mencatatkan top speed 32,1 km/jam—hanya terpaut 0,4 km/jam dari rekor pribadinya di Piala Dunia 2022.

Pernyataan Tegas Scaloni dan Masa Depan Tim

Setelah peluit panjang berbunyi, sorotan kamera langsung tertuju pada reaksi Lionel Scaloni di pinggir lapangan. Pelatih berusia 46 tahun itu hanya tersenyum tipis, geleng-geleng kepala, seolah masih tak percaya dengan apa yang baru saja ia saksikan. Dalam konferensi pers pasca-pertandingan, Scaloni melontarkan kalimat yang langsung menjadi headline di seluruh portal berita Argentina: sang kapten, menurutnya, akan tetap menjadi pemain terbaik di planet ini selama ia masih memiliki hasrat untuk terus berlaga.

"Kita semua melihat hal yang sama malam ini. Bukan soal umur, bukan soal berapa trofi yang sudah ia menangkan. Ini soal keinginan. Selama Leo masih bangun pagi dengan hasrat yang sama seperti saat ia berusia 17 tahun, ia akan tetap menjadi yang terbaik. Tidak ada perdebatan,"
ujar Scaloni dengan nada tenang namun penuh penegasan.

Pernyataan ini bukan sekadar pujian kosong dari seorang pelatih kepada bintangnya. Scaloni berbicara berdasarkan data dan pengamatan langsung di lapangan latihan kompleks Ezeiza. Sumber internal tim mengungkapkan bahwa Messi masih menjadi pemain pertama yang tiba di sesi latihan dan yang terakhir meninggalkan lapangan. Dalam uji coba internal pekan lalu, Messi mencatatkan angka VO2 max 62 ml/kg/menit—nilai yang lazim dimiliki pemain di puncak usia 25-28 tahun, bukan seseorang yang dua tahun lagi akan menginjak kepala empat.

Formasi Fleksibel dan Peran Ganda Sang Ikon

Menarik untuk dicermati bagaimana Scaloni memodifikasi peran Messi dalam starting XI Argentina. Jika pada Piala Dunia 2022 ia lebih sering beroperasi sebagai false nine dalam formasi 4-3-3, kini Scaloni kerap menempatkannya sebagai playmaker murni di belakang dua striker dalam formasi 4-4-1-1 yang cair. Perubahan ini membuat Messi tidak perlu lagi berlari sejauh 10 kilometer per pertandingan seperti gelandang box-to-box; ia cukup mengeksploitasi ruang setengah lapangan, mengatur ritme, dan menusuk di momen-momen krusial.

Presentasi data di aplikasi pelacak pertandingan menunjukkan heatmap Messi malam itu terkonsentrasi di zona 14—area emas di luar kotak penalti yang menjadi markas para kreator ulung. Dari 47 sentuhan yang ia catatkan di sepertiga akhir lapangan, 28 di antaranya berakhir dengan progresi bola yang mengancam pertahanan. Angka expected threat (xT) Messi mencapai 0,89—nyaris tiga kali lipat rata-rata pemain lain di laga yang sama.

Di ruang ganti, pengaruh Messi tak kalah besarnya. Kapten berusia 39 tahun ini menjadi jembatan antara staf pelatih dan para pemain muda seperti Garnacho, Buonanotte, dan Soulé. Dalam sesi taktik sebelum laga, ia tertangkap kamera memberikan instruksi tambahan kepada Garnacho tentang timing overlap dengan bek sayap. Hasilnya? Overlap itu berbuah umpan silang yang nyaris menjadi assist pada menit ke-34.

Argentina kini kokoh di puncak klasemen Kualifikasi Piala Dunia dengan koleksi 25 poin dari 11 pertandingan. Mereka belum terkalahkan dalam 18 laga kompetitif terakhir, dan Messi telah terlibat langsung dalam 14 dari 22 gol yang dicetak tim selama periode tersebut. Lebih mencengangkan lagi, sejak comeback-nya dari cedera hamstring ringan bulan lalu, Messi mencatatkan rata-rata satu kontribusi gol setiap 62 menit di lapangan—efisiensi yang melampaui catatannya sendiri di musim 2023 lalu bersama Inter Miami.

Dengan Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Utara tinggal kurang dari setahun, spekulasi tentang partisipasi Messi terus menguat. Scaloni sendiri enggan memberikan kepastian, namun ia menegaskan bahwa keputusan sepenuhnya berada di tangan sang megabintang. "Tim ini dibangun dengan atau tanpa Leo, tapi jelas semua orang di Argentina berharap ia akan ada di sana. Selama ia mau, pintu timnas ini akan selalu terbuka selebar-lebarnya," pungkas Scaloni menutup sesi jumpa pers.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User