Piring Terbang Debut di SEA Games 2025 sebagai Cabor Demonstrasi

Untuk pertama kalinya dalam sejarah pesta olahraga Asia Tenggara, cabang olahraga piring terbang atau flying disc akan tampil sebagai ekshibisi di SEA Games 2025 yang digelar di Thailand, Desember men...

Piring Terbang Debut di SEA Games 2025 sebagai Cabor Demonstrasi

Untuk pertama kalinya dalam sejarah pesta olahraga Asia Tenggara, cabang olahraga piring terbang atau flying disc akan tampil sebagai ekshibisi di SEA Games 2025 yang digelar di Thailand, Desember mendatang. Kehadirannya bukan sekadar pertunjukan, melainkan sinyal kuat bahwa disiplin ini kian matang dan layak diperhitungkan di level multi-event.

Bukan Sekadar Lempar-lemparan

Di balik istilah "piring terbang", olahraga ini lebih dikenal secara global sebagai ultimate frisbee. Permainan beregu yang memadukan kecepatan atletik, strategi lapangan, dan nilai sportivitas tinggi. Ultimate dimainkan oleh dua tim berisi tujuh pemain di lapangan berukuran 100 x 37 meter, dengan zona akhir di kedua ujungnya—mirip konsep end zone dalam American football. Tujuan utamanya: mengalirkan cakram plastik ke rekan satu tim hingga mencapai zona skor lawan. Tidak boleh melangkah sambil memegang cakram, tidak boleh kontak fisik berlebihan, dan yang paling khas: pertandingan berjalan tanpa wasit.

Ya, sejak kemunculannya pada akhir 1960-an di Amerika Serikat, ultimate menganut semangat Spirit of the Game, di mana para atlet bertanggung jawab penuh menegakkan aturan di lapangan. Bahkan di level dunia, wasit hanya bertindak sebagai fasilitator, bukan penegak hukum. Nilai inilah yang menjadi daya tarik sekaligus tantangan saat olahraga ini menembus panggung formal macam SEA Games.

Eksibisi Bersejarah, Format Ringkas

Di SEA Games 2025, flying disc tampil sebagai cabor demonstrasi—artinya tidak masuk hitungan medali resmi. Namun status ini sangat krusial. Sebab, Federasi Olahraga Piring Terbang Asia (AFDA) dan tuan rumah Thailand ingin menunjukkan bahwa disiplin ini sanggup memenuhi standar teknis, logistik, dan atraktif bagi penonton.

Pertandingan akan menggunakan format mixed gender 5 lawan 5, lebih ringkas dari format standar 7-vs-7. Setiap tim wajib menurunkan minimal dua pemain perempuan di lapangan. Sebanyak 7 negara—Thailand, Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Vietnam, dan Kamboja—dipastikan berpartisipasi. Pertandingan berlangsung dalam satu lapangan selama tiga hari, dengan sistem setengah kompetisi lalu final. Setiap pertandingan dibatasi waktu 40 menit atau hingga satu tim mencapai 13 poin—yang mana lebih dulu tercapai, langsung mengakhiri laga.

Ketua Panitia Pelaksana Flying Disc SEA Games 2025, Thanakorn Siripanich, dalam konferensi pers daring pekan ini menyebutkan, "Kehadiran kami di SEA Games adalah hasil kerja keras komunitas ultimate Asia Tenggara lebih dari satu dekade. Kami ingin menunjukkan bahwa olahraga ini bukan hanya rekreasi pantai, tapi memiliki elemen strategi, ketangkasan, dan sportivitas yang sangat tinggi."

Jalan Menuju Resmi: Dari Pengakuan IOC ke Asian Games

Flying disc sejatinya bukan pendatang baru di kancah organisasi olahraga global. Induk olahraganya, World Flying Disc Federation (WFDF), telah diakui penuh oleh Komite Olimpiade Internasional (IOC) sejak 2015. Pengakuan itu membuka jalan bagi terrestrial ultimate untuk berkompetisi di multi-event seperti World Games dan Asia Pacific Ultimate Championship. Bahkan dalam beberapa tahun terakhir, Jepang dan Australia sudah melahirkan atlet profesional penuh waktu.

Di Asia Tenggara, dominasi masih dipegang Filipina yang rutin mengirim tim ke turnamen dunia. Sementara Indonesia, lewat Pengurus Pusat Ultimate Indonesia (PPUI), terus membangun fondasi lewat kompetisi nasional seperti Indonesian Ultimate League dan turnamen kampus. "SEA Games ini ibarat showcase. Bila sukses, mimpi kami masuk Asian Games 2026 dan mungkin suatu hari Olimpiade akan jauh lebih nyata," ujar Sekjen PPUI, Dimas Ariwibowo, kepada media (15/04/2025).

Menariknya, flying disc di SEA Games 2025 juga menjadi ajang uji coba sistem ofisial hybrid: dua pengamat teknis (game advisor) berlisensi WFDF bersiaga di pinggir lapangan untuk menyelesaikan sengketa bila mekanisme spirit call gagal. Langkah ini diyakini akan memperkuat kredibilitas olahraga tersebut di mata federasi olahraga tradisional yang terbiasa dengan kehadiran wasit.

Respons Atlet dan Harapan ke Depan

Dari kubu tim Indonesia, antusiasme terpancar. Kapten tim campuran, Ayu Lestari, menyebut laga nanti sebagai "panggung mimpi". Ia bersama 14 rekan setimnya telah menjalani pemusatan latihan sejak awal 2025. "Kami tidak hanya bertanding. Kami juga menjadi duta spirit of the game. Ini tanggung jawab besar memperkenalkan bahwa ultimate bisa kompetitif tanpa harus kehilangan respek antar-pemain," katanya.

Pertandingan ekshibisi SEA Games 2025 akan disiarkan langsung melalui platform digital, memberi jangkauan lebih luas bagi publik yang selama ini hanya mengenal frisbee sebagai permainan santai. Dengan tayangan itu, diharapkan lahir gelombang atlet-atlet muda baru yang tertarik menekuni ultimate secara serius.

Bila sukses menggaet minat penonton dan tak ada kendala teknis yang berarti, bukan tidak mungkin pada SEA Games 2027 flying disc naik kelas menjadi cabang olahraga perebutan medali. Thailand sendiri sudah memberi sinyal dukungan penuh dengan membangun lapangan permanen di Bangkok sebagai legacy pasca-SEA Games. Langkah ini menjadi fondasi nyata bahwa piring terbang bukan lagi sekadar lelucon musim panas, melainkan olahraga masa depan yang siap terbang tinggi.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User