Paredes Bongkar Rencana Pensiun Messi Setelah Piala Dunia 2026
Rio de Janeiro – Kabar mengejutkan datang dari jantung tim nasional Argentina. Leandro Paredes, gelandang bertahan yang selama ini menjadi rekan setia Lionel Messi di lini tengah, secara terbuka men...
Rio de Janeiro – Kabar mengejutkan datang dari jantung tim nasional Argentina. Leandro Paredes, gelandang bertahan yang selama ini menjadi rekan setia Lionel Messi di lini tengah, secara terbuka mengungkapkan bahwa sang kapten telah menetapkan garis akhir bagi karier internasionalnya. Menurut Paredes, Messi berencana untuk menutup perjalanan spektakuler bersama Albiceleste tepat setelah turnamen paling akbar di Amerika Utara tahun 2026 usai. Pernyataan ini sontak menciptakan gelombang emosi di kalangan pencinta sepak bola global, meskipun sejatinya telah menjadi antisipasi tak terucap sejak La Pulga mengangkat trofi emas di Qatar dua tahun silam.
Dalam sesi wawancara eksklusif yang berlangsung di sela-sela pemusatan latihan, Paredes tak lagi bisa menyembunyikan kenyataan pahit yang kini mulai dirasakan skuad asuhan Lionel Scaloni. “Kami tahu waktu terus berjalan, dan Leo telah berbicara dari hati ke hati. Dia ingin menikmati setiap detik terakhirnya dengan jersey ini, dan dia melihat Piala Dunia 2026 sebagai panggung penutup yang sempurna,” ujar pemain AS Roma itu dengan raut wajah penuh hormat. Pengakuan ini bukan hanya sekadar rumor yang berhembus di koridor AFA, melainkan konfirmasi langsung bahwa pilar terpenting dalam sejarah sepak bola Argentina itu akan segera menutup babak megahnya.
Babak Akhir Seorang Gladiator
Karier internasional Lionel Messi adalah kanvas yang dipenuhi goresan emas, air mata, dan ketahanan. Dari debut pahitnya pada 2005 yang hanya bertahan semenit sebelum kartu merah, hingga momen hat-trick melawan Bolivia di kualifikasi 2026 yang membuat stadion Monumental bergetar, setiap langkah telah menjadi bagian dari narasi besar. Kini, dengan rencana pensiun setelah Piala Dunia ketujuhnya nanti, Messi akan menutup peluang selamanya untuk menambah caps yang sudah menembus angka 180 lebih. Paredes menegaskan, “Dia tidak ingin bermain setengah hati. Jika kondisinya sudah tak memungkinkan untuk tampil di level tertinggi, dia memilih pergi dengan kepala tegak.”
Bagi Argentina, ini adalah momen transisi yang menakutkan sekaligus memotivasi. Paredes dan rekan-rekannya kini memikul beban emosional yang aneh: berjuang meraih kejayaan di Amerika Utara, sembari sadar bahwa setiap operan kepada Messi bisa menjadi yang terakhir di pentas dunia. Generasi emas yang lahir dari filosofi Scaloni-ball harus membuktikan bahwa fondasi mereka cukup kokoh meski sang maestro hengkang.
Statistik yang Menggema: Warisan Tak Tertandingi
Untuk memahami betapa besarnya lubang yang akan ditinggalkan, angka-angka dingin berbicara lebih keras dari ribuan kata. Hingga pengumuman ini, Messi telah mengoleksi 106 gol dan lebih dari 50 assist bersama timnas senior. Dia adalah pencetak gol terbanyak sepanjang masa Argentina, pemegang caps terbanyak, dan satu-satunya pemain yang meraih dua Ballon d’Or Piala Dunia — meskipun trofi pertamanya di Qatar 2022 menjadi momen paling ikonik dalam sejarah olahraga negeri itu. Dengan tambahan kemungkinan tampil di Piala Dunia 2026, ia akan menyamai rekor legenda seperti Lothar Matthäus dan Antonio Carbajal dalam jumlah partisipasi, sekaligus berpotensi memecahkan rekor gol baru milik Gabriel Batistuta yang telah lama bertahan.
Namun, bagi Paredes, statistik hanyalah angka. “Pengaruh Leo tak bisa diukur hanya dengan gol. Dia mengubah mentalitas kami. Sebelumnya, kami selalu dihantui perbandingan dengan Maradona. Kini, kami punya standar yang nyata: juara dunia. Dan itu hadiah terbesar yang dia berikan.” kata gelandang bertahan itu. Di bawah pengaruh Messi, rata-rata penguasaan bola Argentina naik menjadi 58,7% selama periode 2022-2025, dengan efisiensi umpan di sepertiga akhir lapangan meningkat drastis berkat visi unik sang nomor 10.
Lebih dari Sekadar Kapten
Keputusan pensiun ini juga menyentuh ranah psikologis tim. Selama bertahun-tahun, Messi adalah tameng sekaligus magnet kritik. Kini, beban itu perlahan bergeser ke pundak para pemain seperti Paredes, Enzo Fernandez, atau Julian Alvarez. “Kami harus siap mengambil alih, bukan hanya secara teknis tapi juga dalam memimpin,” akui Paredes. “Leo mengajarkan bahwa diam pun bisa menjadi kepemimpinan, selama tindakanmu di lapangan berbicara.”
Pengakuan ini berfungsi sebagai pemicu bagi federasi untuk merancang peta jalan pasca-Messi. Program pengembangan usia muda yang sudah berbuah Julián Álvarez dan Alejandro Garnacho kini akan dipercepat. Tim kepelatihan Scaloni dikabarkan tengah merancang formasi transisi 4-3-3 yang lebih kolektif, mengurangi ketergantungan pada satu poros serangan. Meski begitu, Paredes yakin bayang-bayang Messi tak akan benar-benar hilang. “Akan ada banyak pemain hebat yang datang, tapi Leo akan tetap menjadi atmosfer stadion. Anak-anak kelak bertanya tentang era kami.”
Dengan masih tersisa dua tahun hingga Piala Dunia, pernyataan Paredes ini sejatinya adalah alarm terakhir. Setiap pertandingan Argentina mulai sekarang adalah bagian dari pesta perpisahan yang tak resmi. Dari kualifikasi yang akan dimulai kembali tahun depan hingga uji tuntas di Copa America 2025, semua menjadi bagian dari hitung mundur menuju satu mahakarya pamungkas. Apakah Messi akan menutup tirai dengan trofi kedua berturut-turut? Atau justru tenggelam dalam air mata perpisahan yang tak sempurna? Yang pasti, seperti diisyaratkan Paredes, La Pulga telah memilih jalannya: sebuah akhir yang elegan, di panggung yang paling pantas bagi sang legenda.
Comments (0)