Padel Bertemu Busana: WBI Buka Rangkaian Menuju HUT Kelima
JAKARTA — Skor akhir 6-4, 3-6, 10-8 menghiasi papan skor laga ekshibisi pembuka WBI Fashion Padel Nusantara, Sabtu (8/11), ketika pasangan Arif Prasetyo dan Dimas Anggara menundukkan duo Bima Sakti ...
JAKARTA — Skor akhir 6-4, 3-6, 10-8 menghiasi papan skor laga ekshibisi pembuka WBI Fashion Padel Nusantara, Sabtu (8/11), ketika pasangan Arif Prasetyo dan Dimas Anggara menundukkan duo Bima Sakti dan Raka Aditya melalui match tiebreak yang menegangkan. Namun sore itu, papan skor hanyalah sebagian kecil dari cerita besar. Warisan Budaya Indonesia (WBI) resmi membuka rangkaian kegiatan menuju perayaan lima tahun berdirinya dengan formula yang jarang terjadi: olahraga padel, peragaan busana, dan pertunjukan budaya Nusantara berpadu dalam satu arena yang sama.
Sekitar 1.200 penonton memadati tribun sejak gerbang dibuka pukul 14.00 WIB, termasuk sejumlah pegiat padel, pelaku industri mode, dan perwakilan komunitas budaya dari berbagai daerah. Panitia menyulap venue menjadi arena multifungsi — sisi barat berdiri lapangan padel berstandar internasional dengan dinding kaca setinggi empat meter, sementara sisi timur membentang panggung peragaan sepanjang 24 meter. Alunan gamelan kontemporer mengiringi sesi pemanasan para pemain, menciptakan atmosfer yang langsung membedakan ajang ini dari turnamen padel konvensional mana pun.
Laga Ekshibisi Memanas Hingga Match Tiebreak
Jalannya pertandingan berlangsung berimbang sejak gim pertama. Gim ke-4 set pembuka menjadi titik balik ketika Arif dan Dimas mencuri break point lewat kombinasi volley silang dan lob terukur, lalu menutup set 6-4 dalam waktu 38 menit. Bima dan Raka merespons dengan agresif di set kedua — unggul 3-0 berkat dua break beruntun sebelum menyamakan kedudukan lewat skor 6-3. Drama sesungguhnya tersaji di match tiebreak. Kedudukan 8-8 membuat tribun bergemuruh, sebelum smash winner Dimas di sisi kanan lapangan dan kesalahan return Bima mengunci skor akhir 10-8. Statistik akhir mencatat 27 winners berbanding 21 untuk kubu pemenang, dengan 14 unforced errors berbanding 19, serta durasi total 1 jam 42 menit.
"Ini ekshibisi, tapi tidak ada yang mau kalah. Atmosfernya luar biasa — kami bermain dikelilingi kain tenun dan alunan gamelan," ujar Arif sambil tertawa usai laga.
Dari Baseline ke Runway, Kain Nusantara Curi Perhatian
Begitu raket diturunkan, lampu venue berpendar dan panggung peragaan mengambil alih sorotan. Sebanyak 12 desainer dari berbagai daerah menampilkan 48 koleksi yang mengangkat tenun ikat Nusa Tenggara Timur, batik parang, songket Palembang, hingga ulos Batak. Yang paling mencuri perhatian adalah lini sportswear padel bermotif batik — dress, polo, hingga bandana fungsional yang dirancang khusus agar tetap nyaman dipakai bergerak di lapangan. Para model berjalan mengelilingi garis lapangan, seolah runway dan arena olahraga melebur tanpa batas. Tepuk tangan penonton tak kalah riuh dibanding saat rally panjang di laga ekshibisi.
Di sisi luar arena, 30 tenant UMKM menjajakan kuliner khas daerah dan produk kerajinan, mulai dari tas anyaman hingga aksesori perak. Antrean terpanjang terpantau di stan kopi dan batik custom yang bisa dipesan langsung di lokasi.
Menuju Puncak Perayaan Lima Tahun WBI
Ketua panitia penyelenggara, Ratna Wulandari, menegaskan bahwa ajang ini bukan sekadar selebrasi, melainkan pernyataan arah gerak WBI ke depan.
"Padel sedang tumbuh luar biasa di Indonesia, dan kami melihatnya sebagai jembatan yang sempurna. Anak muda datang untuk olahraganya, lalu jatuh cinta pada kain dan budayanya. Itulah misi yang kami jalani selama lima tahun terakhir, dan akan kami perbesar di tahun-tahun berikutnya," ujar Ratna usai acara.
Setelah Jakarta, rangkaian WBI Fashion Padel Nusantara akan singgah di Bandung, Yogyakarta, Surabaya, dan Denpasar sebelum mencapai puncak perayaan lima tahun WBI. Panitia menargetkan total 10.000 pengunjung di seluruh seri, dengan format serupa: laga ekshibisi, peragaan busana, dan festival budaya. Sebagian hasil penjualan tiket juga dialokasikan untuk program pelatihan perajin muda di daerah penghasil tenun dan batik.
Gelaran ini sekaligus menegaskan posisi padel sebagai olahraga dengan pertumbuhan tercepat di tanah air — jumlah lapangan di Jabodetabek saja disebut menembus lebih dari 200 titik dalam dua tahun terakhir. Ketika olahraga itu berdampingan dengan warisan budaya, hasilnya adalah tontonan yang sulit dilupakan. Skor akhir boleh saja tercatat 6-4, 3-6, 10-8, tetapi pemenang sesungguhnya sore itu adalah budaya Indonesia yang tampil di panggung utama.
Comments (0)