Nguyen Xuan Son Jadi Pembeda Timnas Vietnam di Piala AFF 2026
Skor akhir 3-1 untuk kemenangan Timnas Vietnam atas Thailand di laga puncak Piala AFF 2026, Kamis malam di Stadion Nasional. Momen kunci datang di menit ke-58, saat Nguyen Xuan Son menyambut umpan tar...
Skor akhir 3-1 untuk kemenangan Timnas Vietnam atas Thailand di laga puncak Piala AFF 2026, Kamis malam di Stadion Nasional. Momen kunci datang di menit ke-58, saat Nguyen Xuan Son menyambut umpan tarik rendah dengan sepakan first-time yang tak mampu dihalau kiper Thailand. Dua gol dan satu assist dicatatkan striker naturalisasi itu sepanjang 90 menit, dan ia menutup turnamen dengan 8 gol serta gelar top skor. Angka-angka itu berpadu dengan penguasaan bola 54 persen berbanding 46 persen serta 7 shots on target berbanding 3, membungkus penampilan paling meyakinkan Vietnam sepanjang turnamen.
Sebelum laga dimulai, pelatih Kim Sang-sik mempertahankan starting XI berformasi 3-4-3 yang menjadi ciri khasnya. Son ditempatkan sebagai ujung tombak tengah, diapit dua winger murni yang gemar memotong ke dalam, sementara Thailand menurunkan formasi 4-2-3-1 dengan pressing tinggi sejak menit pertama. Duel taktis dua skema berbeda itu langsung terasa sejak peluit pembuka dibunyikan.
Babak Pertama: Duel Formasi 3-4-3 Melawan 4-2-3-1
Babak pertama berjalan sengit dengan tempo tinggi. Menit ke-23, Son melepaskan tendangan voli dari sudut sempit yang masih membentur tiang gawang — peringatan pertama bagi pertahanan Thailand. Menit ke-31, giliran tamu yang mengancam lewat serangan balik cepat dua lawan satu, namun kiper Vietnam tampil sigap dengan penyelamatan satu tangan. Kebuntuan akhirnya pecah di menit ke-38: umpan silang mendatar dari bek sayap kanan disambut sundulan terarah Son ke tiang jauh. Gol itu lahir dari penguasaan bola Vietnam yang mencapai 57 persen di 45 menit awal, dengan akurasi umpan 86 persen.
Menariknya, gol pembuka itu justru berawal dari kesalahan sendiri lini tengah Thailand. Vietnam memanfaatkan momen transisi dengan sempurna, mengubah serangan balik menjadi gol dalam tiga sentuhan. Di sisa babak pertama, Thailand mencoba keluar dari tekanan dengan mengandalkan sayap kiri, tetapi dua bek tengah Vietnam selalu menang dalam duel udara. Skor 1-0 bertahan hingga turun minum.
Babak Kedua: Ketajaman Son Mengubah Wajah Laga
Memasuki babak kedua, intensitas naik satu tingkat. Menit ke-58 menjadi titik balik laga. Assist cantik dari gelandang serang membelah dua bek Thailand, dan Son menyelesaikannya dengan tenang ke sudut gawang untuk mencatatkan gol keduanya. Thailand sempat memperkecil kedudukan di menit ke-74 lewat skema tendangan bebas, sebelum VAR menjadi sorotan di menit ke-71 — sebuah gol yang sempat dirayakan suporter Thailand ternyata dianulir karena posisi offside. Vietnam menutup perlawanan lawan di menit ke-81 melalui gol ketiga hasil kerjasama satu-dua di kotak penalti, yang kali ini diselesaikan oleh rekan setim Son setelah menerima umpan matang darinya.
“Son adalah pekerja keras sejati. Ia tidak hanya mencetak gol, tetapi membuat lini depan kami hidup sepanjang 90 menit. Dua gol dan satu assist di final adalah jawaban atas semua keraguan,” ujar Kim Sang-sik dalam konferensi pers usai laga.
Analisis Taktis: Angka di Balik Gelar Vietnam
Dari sisi statistik, Vietnam unggul di hampir semua indikator. Total tembakan 15 berbanding 9, peluang emas 5 berbanding 2, serta duel udara yang dimenangi 68 persen oleh lini belakang Vietnam. Kedua tim sama-sama menerima dua kartu kuning, dan tidak ada kartu merah sepanjang laga. Thailand justru lebih sering terjebak offside dengan tiga kali, berbanding dua untuk Vietnam. Pertahanan tiga bek Vietnam tampil disiplin dan nyaris mencatatkan clean sheet andai gol menit ke-74 tidak tercipta.
Peran Son tidak berhenti pada gol. Dari delapan golnya di turnamen, ia juga mencatatkan tiga assist dan menciptakan 21 peluang untuk rekan setim. Data menunjukkan ia menjadi pemain dengan jumlah tembakan terbanyak di Piala AFF 2026, yakni 27 percobaan dengan 15 di antaranya mengarah ke gawang. Ketajaman itu membuat lini belakang lawan selalu terpaksa mengerahkan dua pemain untuk menjaganya, membuka ruang bagi winger dan gelandang serang Vietnam.
Bagi Nguyen Xuan Son, gelar ini melengkapi perjalanan panjang sejak mengambil sumpah kewarganegaraan. Delapan gol dari enam pertandingan, dua di antaranya lahir di laga final, membuat namanya kini disejajarkan dengan legenda penyerang Asia Tenggara. Timnas Vietnam mengunci gelar keempat mereka, dan striker naturalisasi asal Brasil itu menjadi alasan utama para suporter menyanyikan yel-yel kemenangan hingga larut malam. Malam di Hanoi itu milik Son — dan seluruh Vietnam merayakannya.
Comments (0)