Messi Ukir Sejarah dengan Dua Assist Tanpa Gol di Piala Dunia 2026
Estadio Azteca bergemuruh ketika peluit panjang tanda berakhirnya laga Argentina melawan Kroasia pada matchday pertama Grup A Piala Dunia 2026. Papan skor menunjukkan angka 2-0 untuk keunggulan Albice...
Estadio Azteca bergemuruh ketika peluit panjang tanda berakhirnya laga Argentina melawan Kroasia pada matchday pertama Grup A Piala Dunia 2026. Papan skor menunjukkan angka 2-0 untuk keunggulan Albiceleste. Namun, sorotan utama bukan tertuju pada pencetak gol, melainkan pada seorang pria berusia 39 tahun yang tidak sekalipun mencatatkan namanya di papan skor: Lionel Messi.
Bermain sebagai playmaker dalam formasi 4-2-3-1 racikan Lionel Scaloni, Messi mengisi peran enganche dengan kebebasan mutlak. Ia bukan lagi penyerang tajam yang menusuk kotak penalti, melainkan otak serangan yang mengatur ritme dari lini kedua. Hasilnya? Dua assist mematikan yang tidak hanya membawa Argentina meraih tiga poin perdana, tetapi juga mengukir sejarah baru dalam buku rekor Piala Dunia.
Jalannya Pertandingan: Dua Assist yang Mengubah Segalanya
Kroasia, yang tampil dengan formasi 4-3-3 mengandalkan kematangan Luka Modric di lini tengah, justru tampil dominan pada 20 menit awal. Penguasaan bola mereka mencapai 62% dengan dua percobaan tepat sasaran dari Ivan Perisic dan Lovro Majer. Namun, lini belakang Argentina yang dikawal Cristian Romero dan Lisandro Martinez tetap solid, meredam setiap ancaman sebelum mencapai Emiliano Martinez.
Pada menit ke-34, momen pertama Messi tercipta. Menerima umpan pendek dari Enzo Fernandez di depan kotak penalti, Messi mengontrol bola dengan kaki kiri sambil memutar tubuh melewati Marcelo Brozovic. Tanpa melihat, ia melepaskan through ball mendatar ke sisi kanan yang disambut Julian Alvarez. Penyerang Manchester City itu melepaskan tembakan first-time ke tiang jauh yang tak mampu dijangkau Dominik Livakovic. Skor 1-0. Assist itu menjadi yang ke-9 dalam karier Piala Dunia Messi, sekaligus membungkam Kroasia yang sebelumnya nyaman mengendalikan tempo.
Babak pertama ditutup dengan Argentina unggul tipis, namun statistik menunjukkan dominasi Messi: 2 umpan kunci, 3 dribel sukses, dan akurasi operan 94% di sepertiga akhir lapangan. Penguasaan bola Argentina naik menjadi 48% berkat pergeseran taktik Scaloni yang meminta Leandro Paredes masuk menggantikan Alexis Mac Allister untuk menambah kekuatan duel di lini tengah.
Memasuki babak kedua, Kroasia meningkatkan intensitas dan hampir menyamakan kedudukan melalui sundulan Andrej Kramaric yang membentur mistar pada menit ke-58. Namun, kembali Messi yang menjadi pembeda. Pada menit ke-66, dari skema serangan balik cepat yang dibangun oleh Nahuel Molina, Messi menerima bola di sayap kiri. Alih-alih menusuk ke dalam, ia mengirim umpan lambung kaki kanan melengkung ke tiang jauh—persis ke arah Enzo Fernandez yang berlari tanpa kawalan. Fernandez menyundul bola ke tanah dan memantul masuk ke gawang. Assist kedua Messi malam itu, dan skor menjadi 2-0.
Selama 90 menit, Messi hanya melepaskan satu tembakan yang melambung di atas mistar, namun ia menciptakan lima peluang (chances created)—sebuah rekor tertinggi dalam pertandingan ini. Peta sentuhannya terbentang dari kotak penalti sendiri hingga sepertiga akhir lapangan lawan, menegaskan peran hibrida antara gelandang serang dan penyerang lubang. Statistik akhir pertandingan mencatat Argentina unggul shots on target 6-4, meskipun kalah penguasaan bola tipis 49%-51%. Dua assist Messi menjadi pembeda yang mengonversi penguasaan bola Kroasia menjadi sia-sia.
Rekor demi Rekor yang Tercatat
Dua umpan gol malam itu langsung menulis ulang arsip Piala Dunia. Pertama, Messi kini mengoleksi total 10 assist sepanjang karier turnamen empat tahunan ini, menyamai legenda Brasil, Pele, sebagai pemain dengan assist terbanyak sepanjang masa. Dengan 10 assist tersebut, ia juga melampaui rekor Diego Maradona (8 assist) dan menjadi playmaker tersubur Argentina di Piala Dunia. Kedua, di usia 39 tahun 11 bulan, Messi menjadi pemain tertua yang mencatatkan dua assist dalam satu laga, memecahkan rekor sebelumnya yang dipegang oleh Roger Milla (38 tahun pada 1990) ketika ia hanya mencatatkan satu assist.
Selain itu, ini adalah penampilan ke-27 Messi di Piala Dunia—terbanyak dalam sejarah, melampaui 25 laga milik Lothar Matthäus dan Miroslav Klose. Hebatnya, ia menjadi pemain pertama yang mencatatkan assist di lima edisi turnamen berbeda: 2006 (vs Serbia dan Montenegro), 2014 (vs Swiss), 2018 (vs Prancis), 2022 (vs Kroasia dan Belanda), dan kini 2026. Konsistensi dua dekade ini menjadi bukti bahwa Messi bukan sekadar pencetak gol, melainkan juga pencipta peluang ulung yang beradaptasi dengan evolusi timnya.
Momen Kunci: Umpan Tanpa Melihat dan Reaksi Pelatih
Assist pertama yang diciptakan dengan no-look pass menjadi perbincangan hangat di ruang pers. Puluhan kamera menangkap momen Messi yang sama sekali tidak menatap ke arah Alvarez saat melepas umpan—sebuah teknik khas dengan visi spasial luar biasa. “Itu insting, saya tahu Julian akan berada di ruang itu karena kami sudah membangun koneksi sejak klub dan tim nasional sebelumnya,” ujar Messi singkat selepas laga.
“Messi adalah fenomena yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan taktik atau statistik biasa. Di usianya, dia masih bisa mengubah jalannya pertandingan hanya dengan visi dan umpan-umpannya. Satu assist sudah luar biasa, dua assist adalah bukti bahwa dia terus mendefinisikan ulang kehebatannya,” kata pelatih Argentina, Lionel Scaloni, dalam konferensi pers.
Scaloni juga mengonfirmasi bahwa dirinya sengaja membangun skema permainan dengan Messi sebagai poros kreatif, mengurangi beban mencetak gol dari sang kapten. Dengan gelandang muda seperti Fernandez dan Exequiel Palacios yang terus berlari, Messi cukup berdiri di ruang antara lini tengah dan pertahanan lawan—zona 14—untuk mengirim umpan-umpan mematikan.
Keajaiban yang Tak Akan Padam
Di saat para pemain seusianya telah pensiun atau bermain di liga dengan intensitas rendah, Messi justru tetap menjadi pusat perhatian di level tertinggi. Spanduk besar bertuliskan “Terima kasih, Kapten” terbentang di tribune utara Azteca, seolah mewakili hati jutaan pencinta sepak bola yang tak ingin dongeng ini berakhir. Dan dengan dua assist dingin yang memecah rekor, Messi membuktikan bahwa angka di kolom usia hanyalah statistik lain yang tak mampu membatasi keajaiban.
Argentina selanjutnya akan menghadapi Selandia Baru dalam laga kedua Grup A. Jika tren ini berlanjut, bukan tidak mungkin Messi akan segera memecahkan rekor assist terbanyak secara tunggal, menambah legasi yang telah memuncak di Qatar 2022. Untuk saat ini, dunia sepak bola hanya bisa menyaksikan dengan takjub: sang alien, tanpa mencetak gol, kembali mengukir sejarah di Piala Dunia 2026.
Comments (0)