Mario Aji dan Veda Ega Diabadikan Lukisan di Kawasan Nusa Dua Bali
Pemandangan tidak biasa tersaji di kawasan Bali Collection, Nusa Dua, pada Sabtu (18/7/2026). Wajah dua rider Grand Prix kebanggaan Indonesia, Mario Suryo Aji dari kelas Moto2 dan Veda Ega Pratama dar...
Pemandangan tidak biasa tersaji di kawasan Bali Collection, Nusa Dua, pada Sabtu (18/7/2026). Wajah dua rider Grand Prix kebanggaan Indonesia, Mario Suryo Aji dari kelas Moto2 dan Veda Ega Pratama dari kelas Moto3, terpampang dalam bentuk lukisan di salah satu toko souvenir. Bagi dunia balap Tanah Air, momen ini bukan sekadar pajangan — ini penegasan bahwa pembalap Indonesia kini menjadi ikon yang layak dijajarkan dengan atraksi wisata kelas dunia di Pulau Dewata.
Lukisan kedua rider itu langsung menyita perhatian pengunjung yang tengah berbelanja cenderamata. Nusa Dua dikenal sebagai kawasan premium yang saban tahun dikunjungi jutaan wisatawan mancanegara. Hadirnya sosok Mario dan Veda di sana mengirim pesan kuat: Indonesia tidak hanya memiliki sirkuit berstandar internasional seperti Pertamina Mandalika International Street Circuit, tetapi juga pembalap yang bertarung reguler di kejuaraan dunia.
Super Mario: Dari Magetan Menembus Kelas Intermediate
Mario Suryo Aji, rider kelahiran Magetan, Jawa Timur, 16 Maret 2004, menapaki jalur panjang sebelum mentas di Moto2. Jejaknya dimulai dari Red Bull MotoGP Rookies Cup, berlanjut ke FIM CEV Moto3 Junior World Championship, hingga promosi ke kelas Moto3 Grand Prix bersama Honda Team Asia pada 2022. Dua musim di kelas lightweight ia lewati dengan sejumlah hasil menjanjikan, termasuk penampilan impresif di balapan kandang di Mandalika yang sempat membawanya bersaing di barisan depan.
Langkah naik kelas ke Moto2 — kategori intermediate yang memakai mesin Triumph 765cc tiga silinder — menjadi babak baru perjalanannya. Bersama Idemitsu Honda Team Asia, rider yang akrab disapa Super Mario ini terus mengasah kemampuan di salah satu kelas paling kompetitif di dunia, di mana selisih waktu antarpembalap di sesi kualifikasi kerap hanya sepersekian detik. Kehadirannya di grid Moto2 memastikan Indonesia punya wakil di dua kelas Grand Prix sekaligus.
Veda Ega Pratama: Fenomena Muda dari Gunung Kidul
Di kelas Moto3, nama Veda Ega Pratama tengah menjadi perbincangan hangat paddock. Rider kelahiran Gunung Kidul, DI Yogyakarta, 23 November 2008, ini mencetak sejarah sebagai orang Indonesia pertama yang menjuarai Red Bull MotoGP Rookies Cup pada 2023 — ajang yang sama yang dulu menjadi batu loncatan Mario Aji. Prestasi itu membuka jalannya ke kejuaraan dunia Moto3, kelas yang terkenal brutal karena puluhan pembalap muda bertarung berdempetan dari lap pertama hingga bendera finis berkibar.
Gaya balap Veda yang agresif di tikungan dan berani mengambil racing line sempit membuatnya cepat dikenal. Di usia yang masih sangat belia, ia sudah terbiasa menghadapi tekanan balapan Grand Prix yang digelar di lebih dari 15 negara dalam satu musim kalender. Bagi Indonesia, Veda adalah investasi masa depan — aset berharga yang diproyeksikan mengikuti jejak seniornya menuju kelas yang lebih tinggi.
Lukisan di Nusa Dua: Simbol Kebangkitan Motorsport Indonesia
Apa yang terjadi di toko souvenir Bali Collection itu sejatinya mencerminkan perubahan besar dalam lanskap olahraga nasional. Satu dekade lalu, nyaris mustahil membayangkan wajah pembalap Indonesia terpajang di pusat perbelanjaan wisata internasional. Kini, dengan hadirnya Mandalika dalam kalender MotoGP sejak 2022 dan dua rider aktif di grid Grand Prix, motorsport telah naik kelas menjadi bagian dari identitas pariwisata Indonesia.
Dari sisi pembinaan, kombinasi Mario di Moto2 dan Veda di Moto3 membentuk jenjang yang ideal. Sang senior membuka jalan dan membuktikan bahwa pembalap Indonesia sanggup bertahan di kelas intermediate, sementara sang junior menjadi bukti bahwa regenerasi terus berjalan. Keduanya sama-sama lahir dari pembinaan Astra Honda Racing Team, program yang konsisten mencetak talenta sejak level Asia Talent Cup.
Bagi wisatawan yang melintas di Nusa Dua akhir pekan itu, dua lukisan tersebut mungkin tampak sebagai suvenir biasa. Namun bagi pencinta balap Tanah Air, itu adalah pengingat bahwa mimpi Indonesia di pentas Grand Prix sedang hidup — dilukis di atas kanvas, diperjuangkan di lintasan dengan kecepatan lebih dari 200 kilometer per jam.
Comments (0)