Makhachev Sapu Bersih di Welter, Catatan Submission Masih Kosong
Skor akhir judges' scorecard mempertegas dominasi absolut Islam Makhachev di kelas welter dengan kemenangan unanimous decision 30-27, 30-27, dan 29-28. Namun, satu catatan aneh menghiasi performa sang...
Skor akhir judges' scorecard mempertegas dominasi absolut Islam Makhachev di kelas welter dengan kemenangan unanimous decision 30-27, 30-27, dan 29-28. Namun, satu catatan aneh menghiasi performa sang juara: untuk pertama kalinya dalam karier UFC-nya di divisi 170 pon, Makhachev gagal mengunci submission meski menguasai pertarungan dari menit ke-1 hingga bell ronde ketiga berbunyi.
Kontrol Oktagon Tanpa Finishing Touch
Menit ke-2 ronde pertama, Makhachev langsung menunjukkan superioritas grappling dengan takedown bersih yang membawa lawan ke kanvas. Dari posisi full mount, sang kampion lightweight melancarkan ground-and-pound dengan 47 significant strikes yang masuk tepat sasaran. DataFightmetrics mencatat, penguasaan oktagon Makhachev mencapai 78% di ronde pembuka, mirip dengan penguasaan bola tim elite yang menyudutkan lawan di final third.
Masuk ronde kedua, formasi bertahan lawan berubah menjadi open stance, berusaha menjaga jarak dengan check left hook. Namun Makhachev, dengan fight IQ tinggi, kembali merobek pertahanan di menit ke-3. Sebuah assist dari double-leg feint membukanya meraih back control, tempat biasanya ia mengunci rear-naked choke. Kali ini, leher lawan terlindungi rapat, memaksa Makhachev bermain aman dengan body triangle dan short punches hingga ronde usai.
Di ronde ketiga, skor akhir sudah terlihat condong. Makhachev mencatat 6 shots on target berupa elbow dan hammerfist dari top position. Total significant strikes-nya membengkak menjadi 89 dengan akurasi 62%. Sayangnya, meski mencoba 4 kali transisi ke armbar dan kimura, sang juara tak bisa mencatat clean sheet submission seperti yang selalu jadi ciri khasnya di lightweight.
Rekor 100 Persen, Namun Tanda Tanya Teknis
Dengan kemenangan ini, Makhachev mempertahankan rekor 100 persennya di welter—sapu bersih tanpa kekalahan di kelas yang lebih berat. Namun, absennya kemenangan submission di divisi baru memunculkan pertanyaan taktis: apakah ukuran tubuh lawan welter yang lebih besar dan leher yang lebih tebal menjadi penghalang utama?
Statistik pertarungan mengungkap fakta menarik. Dari 12 takedown yang dicoba, 9 berhasil (75% rate), angka yang konsisten dengan performanya di 155 pon. Namun, control time-nya di welter mencapai 12 menit 34 detik dari total 15 menit pertarungan—hampir 84%—tanpa bisa memaksakan hat-trick finishing via submission seperti yang ia lakukan di lightweight. Bahkan saat wasit hampir mengeluarkan kartu kuning verbal karena lawan terus memegang fence, Makhachev tak bisa memanfaatkan posisi dominan untuk mengunci lever atau choke.
"Saya merasa kuat di sana. Tubuh saya cocok di welter, tapi mereka lebih besar, lebih sulit diputar. Saya butuh penyesuaian formasi grappling," ujar Makhachev di konferensi pasca-laga.
Analisis lanjut menunjukkan, tanpa adanya VAR atau replay cageside yang mengintervensi posisi ground fight, Makhachev sebenarnya sempat berada sangat dekat dengan heel hook di menit ke-4 ronde kedua. Namun transisi itu terhenti karena lawan melakukan scramble yang cerdas—bukan offside dalam sepak bola, tapi sebuah escape teknikal yang menyelamatkannya dari tap.
Prospek dan Adaptasi di Kelas Baru
Melihat starting XI ranking welter saat ini, Makhachev masih harus membuktikan bahwa dominasi tanpa submission cukup untuk merebut gelar dari para predator 170 pon. Kemenangan ini memang memperlihatkan clean sheet defensif—ia hanya menyerap 11 significant strikes dari lawan sepanjang tiga ronde—namun UFC selalu menghargai finisher.
Pelatih Khabib Nurmagomedov, yang hadir di sudut octagon, tampak tenang meski tanpa selebrasi besar. "Islam belum menunjukkan kartu merah-nya di welter. Submission itu akan datang saat timing-nya sempurna," tambahnya singkat.
Dengan skor akhir yang memangkas rekor menjadi 26-1 secara keseluruhan, Makhachev kini berdiri di persimpangan. Apakah ia akan kembali ke lightweight untuk mempertahankan sabuk, atau terus berkutat di welter untuk mengejar kemenangan submission perdana yang hingga kini masih menghindar? Satu yang pasti: penguasaan oktagonnya tak terbantahkan, tapi assist terakhir untuk kemenangan dominan masih menunggu sentuhan grappling sempurna dari sang juara.
Comments (0)