Laga Panas Inggris vs Argentina: Dari Kartu Merah Beckham hingga Penalti Penebusan

Rivalitas antara Inggris dan Argentina di panggung Piala Dunia selalu menyuguhkan drama yang melampaui sekadar taktik dan teknik. Dua pertemuan ikonik pada tahun 1998 dan 2002 menjadi babak penting ya...

Laga Panas Inggris vs Argentina: Dari Kartu Merah Beckham hingga Penalti Penebusan

Rivalitas antara Inggris dan Argentina di panggung Piala Dunia selalu menyuguhkan drama yang melampaui sekadar taktik dan teknik. Dua pertemuan ikonik pada tahun 1998 dan 2002 menjadi babak penting yang menorehkan kisah kontroversi, emosi, dan penebusan. Dari kartu merah David Beckham di Saint-Étienne hingga gol penaltinya di Sapporo, duel dua raksasa sepak bola ini seolah menjadi cermin ketegangan yang tak pernah padam.

Malam di Saint-Étienne: Kartu Merah dan Adu Penalti yang Memilukan

Pertemuan babak 16 besar Piala Dunia 1998 mempertemukan kedua tim dalam salah satu laga paling dikenang dalam sejarah turnamen. Baru berjalan enam menit, Argentina sudah unggul lewat penalti Gabriel Batistuta setelah pelanggaran terhadap Diego Simeone. Inggris langsung merespons empat menit kemudian melalui titik putih yang dieksekusi Alan Shearer, menyamakan kedudukan menjadi 1–1.

Menit ke-16 menjadi momen ajaib Michael Owen. Menerima umpan di area sendiri, sang penyerang muda itu melewati dua bek Argentina sebelum melepaskan tembakan melengkung yang menaklukkan Carlos Roa. Inggris berbalik unggul 2–1 dan stadion bergemuruh. Namun, Argentina kembali menunjukkan karakternya menjelang turun minum: sebuah skema tendangan bebas brilian yang dieksekusi Juan Sebastián Verón dan diselesaikan Javier Zanetti membuat skor menjadi 2–2 di menit 45+1.

Titik balik pertandingan terjadi di awal babak kedua. David Beckham mendapat kartu merah langsung pada menit ke-47. Terprovokasi oleh tekel Simeone, Beckham menendang kaki pemain Argentina itu secara ringan namun cukup bagi wasit Kim Milton Nielsen untuk mengeluarkan karton merah. Inggris harus bermain dengan sepuluh orang sepanjang sisa 70 menit pertandingan. Meski bertahan dengan gigih dan memaksakan skor imbang hingga babak tambahan usai, adu penalti harus menjadi penentu. Dua penendang Inggris—Paul Ince dan David Batty—gagal menunaikan tugas, sementara Argentina hanya meleset satu kali. Skor akhir 4–3 dalam adu tos-tosan itu mengirim Inggris pulang dan menjadikan Beckham sasaran kemarahan publik.

Statistik penguasaan bola menunjukkan Argentina sedikit unggul dengan 51 persen berbanding 49 persen. Shots on target kedua tim cukup berimbang: Inggris mencatatkan 6 tembakan tepat sasaran dari 15 percobaan, sedangkan Argentina membukukan 7 dari 13 percobaan. Formasi 4-4-2 Inggris yang diisi nama-nama seperti Sol Campbell, Tony Adams, dan Paul Scholes tidak cukup untuk meredam kreativitas lini tengah La Albiceleste.

Narasi Pembalasan di Sapporo 2002

Empat tahun berselang, takdir kembali mempertemukan Inggris dan Argentina di fase grup Piala Dunia 2002 di Jepang dan Korea Selatan. Laga ini sarat makna bagi Beckham yang masih membawa beban insiden 1998. Stadion Sapporo Dome menjadi saksi salah satu babak penebusan pribadi paling emosional dalam olahraga modern.

Menit ke-44, momen yang dinantikan tiba. Michael Owen dijatuhkan Mauricio Pochettino di kotak terlarang dan wasit Pierluigi Collina langsung menunjuk titik putih. Beckham maju sebagai algojo. Di bawah tekanan ribuan pasang mata, ia melepaskan tembakan keras ke tengah gawang yang tak mampu dijangkau Pablo Cavallero. Gol tersebut menjadi satu-satunya gol di laga itu, membawa Inggris menang 1–0 dan memastikan kelolosan dari grup neraka yang juga berisi Swedia dan Nigeria.

Secara taktik, Inggris menerapkan formasi 4-4-2 yang lebih solid dengan penekanan pada transisi cepat. Duet Rio Ferdinand dan Sol Campbell tampil kokoh di jantung pertahanan, sementara Nicky Butt menjaga lini tengah dengan disiplin. Argentina yang diasuh Marcelo Bielsa mendominasi penguasaan bola hingga 57 persen, namun hanya mencatatkan tiga tembakan tepat sasaran dari total sembilan percobaan. Inggris justru lebih efisien: empat shots on target dari delapan kali percobaan. Pertahanan rapat Inggris membuat Gabriel Batistuta dan Ariel Ortega frustrasi sepanjang pertandingan.

Kemenangan ini tidak hanya membalas kekalahan 1998, tetapi juga mengubah citra Beckham dari pesakitan menjadi pahlawan di mata publik Inggris. Setelah peluit panjang, sang kapten berlutut dan menangis di tengah lapangan, merayakan lepasnya beban selama empat tahun.

Warisan Rivalitas dan Kontroversi Abadi

Dua edisi Piala Dunia itu menegaskan bahwa duel Inggris versus Argentina selalu menawarkan lebih dari sekadar sepak bola. Di 1998, selain kartu merah Beckham, kontroversi juga muncul dari gol offside yang dianulir untuk Sol Campbell di babak tambahan. Sementara di 2002, kemenangan Inggris diwarnai sejumlah pelanggaran keras yang tetap membuat tensi tetap tinggi. Hingga kini, setiap kali kedua negara bertemu, bayang-bayang Saint-Étienne dan Sapporo selalu menghadirkan nuansa dramatis yang sulit tergantikan.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
vina-melati

Data Journalist Hukum. Visualisasi data kejahatan dan analisis tren kriminal.

Comments (0)

User