Kolaborasi Petugas dan Warga Berhasil Padamkan Kebakaran Lahan Ogan Ilir
LANGIT kelabu perlahan kembali cerah di atas lahan-lahan kering Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan. Setelah berjam-jam berkobar dan mengancam pemukiman
LANGIT kelabu perlahan kembali cerah di atas lahan-lahan kering Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan. Setelah berjam-jam berkobar dan mengancam pemukiman serta ladang warga, titik api akhirnya berhasil dikendalikan sepenuhnya berkat kerja sama cepat antara personel Manggala Agni Daops Sumatera XIV-Banyuasin dan masyarakat setempat. Operasi pemadaman yang berlangsung dalam tekanan cuaca panas dan tiupan angin kencang itu menjadi bukti nyata bahwa sinergi multisektor mampu meredam ancaman bencana kabut asap lintas batas yang rutin menghantui Sumatera setiap musim kemarau.
Kebakaran lahan dan hutan (karhutla) yang terjadi di wilayah Kabupaten Ogan Ilir merupakan salah satu dari rangkaian peristiwa serupa yang menyerang sejumlah kabupaten di Sumatera Selatan pada puncak kemarau tahun ini. Menurut data yang dicatat oleh tim lapangan, titik api terpantau mulai membesar pada akhir pekan lalu di area lahan gambut dan semak belukar seluas kurang lebih 12 hektare. Situasi sempat kritis karena angin tenggara yang kencang membuat lidah api menjalar dengan cepat ke blok lahan di sekitarnya, mengancam perkebunan karet milik warga, dan menyebarkan asap pekat ke jalan poros yang menghubungkan Ogan Ilir dengan Palembang.
Upaya pemadaman tidak bisa mengandalkan kekuatan satu regu saja. Petugas Manggala Agni yang berjumlah 15 personel didukung puluhan relawan warga serta aparat TNI dan Polri langsung menyusun strategi penyekatan api guna melindungi permukiman terdekat. Mereka menggunakan peralatan pemadaman konvensional seperti selang, pompa jinjing, dan jet shooter, sembari memanfaatkan sumber air dari kanal dan sumur bor yang terbatas di sekitar lokasi. Medan yang berupa lahan basah bercampur gambut tua menyulitkan mobilitas, tetapi tim berhasil memecah area kebakaran menjadi tiga sektor prioritas yang ditangani secara simultan.
Strategi Pemadaman: Dari Darat dan Udara
Untuk mempercepat pendinginan di titik-titik terdalam yang tidak bisa dijangkau kendaraan operasional, tim Manggala Agni berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Selatan untuk mengerahkan dukungan water bombing menggunakan helikopter. Meskipun volume air yang dijatuhkan terbatas, teknik ini sangat efektif menurunkan suhu bara di lapisan gambut yang berpotensi menyimpan api selama berminggu-minggu. Di permukaan tanah, para petugas mengaplikasikan metode pembasahan dan pembalikan tanah gambut untuk memadamkan sisa bara yang tersembunyi di bawah lapisan kering sedalam lebih dari 30 sentimeter.
“Kami bersyukur bisa mengerahkan hampir seluruh sumber daya, baik dari darat maupun udara, selama jendela operasi yang sempit. Cuaca sangat panas, angin tidak menentu, tapi kekompakan dengan warga di lapangan yang menjadi kunci api bisa kita isolasi sebelum malam tiba,” ujar Kepala Daops Manggala Agni Sumatera XIV-Banyuasin, saat dihubungi melalui sambungan telepon.
Selain bantuan teknis, warga yang bergabung dalam tim pemadam mandiri desa juga berperan menjadi mata dan telinga awal. Pemantauan titik panas berbasis kearifan lokal, seperti laporan langsung dari petani dan penjaga ladang, memungkinkan respons pemadaman dilakukan dalam kurang dari dua jam setelah api terdeteksi. Sebagian warga bahkan membentuk posko logistik dadakan yang menyediakan air minum dan makanan bagi para pemadam yang berjibaku di bawah terik matahari.
Tantangan Lingkungan dan Potensi Kebakaran Ulangan
Meskipun seluruh titik api di Ogan Ilir sudah dinyatakan padam total pada Selasa sore, risiko api susulan masih tinggi. Peneliti lingkungan dari Universitas Sriwijaya memperingatkan bahwa lahan gambut yang mengalami dehidrasi parah setelah tiga bulan kemarau dapat menyimpan bara dalam pori-pori tanah, yang sewaktu-waktu bisa menyala kembali jika terpapar oksigen. Fenomena smoldering ini menjadi musuh tak kasatmata bagi petugas, mengingat api tidak terlihat di permukaan namun terus menggerogoti material organik di bawah tanah.
Di sisi lain, kebakaran ini kembali menyisakan pertanyaan mengenai praktik pembukaan lahan dengan cara dibakar. Meskipun belum dipastikan penyebab pastinya, beberapa temuan di lapangan menunjukkan bahwa titik awal kebakaran kerap berasal dari pembakaran sisa tanaman yang dilakukan secara sporadis oleh oknum tidak bertanggung jawab. Kepala Dinas Lingkungan Hidup Ogan Ilir mengaku pihaknya akan memperkuat patroli serta sosialisasi larangan membakar lahan dengan memanfaatkan peraturan daerah yang sudah memiliki sanksi pidana.
Dampak Asap dan Upaya Pemulihan
Selama masa pemadaman, asap tebal sempat menurunkan jarak pandang di jalan lintas sepanjang beberapa kilometer, memaksa pengendara menyalakan lampu pada siang hari. Beruntung, konsentrasi partikulat (PM2.5) di udara kawasan pemukiman tidak melampaui ambang berbahaya berkat arah angin yang cenderung membawa asap ke area tidak berpenghuni. Meski begitu, Puskesmas terdekat melaporkan peningkatan 20 persen kasus ISPA ringan pada lansia dan anak-anak selama tiga hari puncak kebakaran. Pemerintah kabupaten langsung mendistribusikan masker N95 dan mendirikan tenda oksigen darurat bagi kelompok rentan.
Dampak ekologis juga tak kalah serius. Lahan seluas 12 hektare yang didominasi semak belukar dan vegetasi gambut sekunder kehilangan fungsi penyerap karbon alaminya. Beberapa spesies burung rawa dan reptil kecil yang habitatnya tergusur dilaporkan pindah ke area konservasi di sekitar Sungai Ogan. Perhimpunan pemerhati lingkungan setempat meminta adanya evaluasi tata guna lahan agar kejadian serupa tidak terus berulang setiap siklus kemarau.
Dengan padamnya api di Ogan Ilir, perhatian kini beralih ke upaya pencegahan jangka panjang. Pemerintah provinsi Sumatera Selatan berencana memperbanyak embung dan sumur pantau di kawasan rawan, sekaligus mengoperasikan satgas karhutla desa yang dibekali alat pemadam sederhana dan pelatihan dini. “Kita tidak bisa hanya mengandalkan pemadaman saat api sudah besar. Harus ada investasi untuk deteksi dini dan manajemen gambut berkelanjutan,” kata seorang pengamat kehutanan yang memantau pola karhutla di Sumatera Selatan.
[SOCIAL_TWEET]: Api di lahan Ogan Ilir akhirnya padam. Kolaborasi Manggala Agni, warga, dan TNI berhasil mengendalikan kebakaran seluas 12 ha setelah 3 hari jibaku di lahan gambut. Kunci sukses: deteksi dini dan gotong royong. #Karhutla #OganIlir #ManggalaAgni #SiagaAsap[SOCIAL_TG]: 🔥 Api di Ogan Ilir padam total! Kerja sama petugas & warga sukses jinakkan kebakaran lahan gambut 12 ha. Tim darat & water bombing berjibaku 72 jam. Simak kisah heroiknya.
Comments (0)