Kim Sang-sik: Arsitek Kebangkitan Timnas Vietnam di Panggung Asia
Skor akhir 3-2 untuk Timnas Vietnam di Stadion Rajamangala, Bangkok, pada 5 Januari 2025. Dengan agregat 5-3, trofi ASEAN Championship 2024 resmi berpindah tangan ke The Golden Star — dan di balik d...
Skor akhir 3-2 untuk Timnas Vietnam di Stadion Rajamangala, Bangkok, pada 5 Januari 2025. Dengan agregat 5-3, trofi ASEAN Championship 2024 resmi berpindah tangan ke The Golden Star — dan di balik drama itu berdiri satu nama yang kerap luput dari sorotan: Kim Sang-sik. Pelatih asal Korea Selatan itu hanya butuh delapan bulan untuk mengubah Vietnam dari tim yang tenggelam dalam krisis menjadi juara Asia Tenggara. Bukan kebetulan, dan bukan pula keberuntungan semata: semuanya berawal dari perubahan struktur permainan, disiplin pertahanan, dan keberanian menurunkan starting XI baru di laga-laga berat.
Sejak resmi ditunjuk pada Mei 2024, Kim Sang-sik langsung merombak dua hal yang paling dikeluhkan suporter: kebocoran di lini belakang dan permainan menyerang tanpa keseimbangan. Hasilnya terlihat nyata di turnamen yang berlangsung Desember 2024 hingga Januari 2025: Vietnam melaju tanpa kekalahan, dengan catatan tujuh kemenangan dan satu hasil imbang dari delapan laga. Di antaranya, setidaknya dua laga ditutup dengan clean sheet, sementara lini serang tampil efisien dengan rasio shots on target yang jauh lebih baik dibanding turnamen-turnamen sebelumnya.
Final Dua Leg: Comeback di Kandang Gajah Perang
Leg pertama di Stadion Nasional My Dinh, Hanoi, dibuka dengan tempo tinggi. Thailand yang datang sebagai juara bertahan justru tertekan oleh pressing agresif tuan rumah. Vietnam unggul lebih dulu di babak pertama, sempat dikejar menjadi imbang, lalu kembali memimpin sebelum peluit panjang berbunyi. Skor akhir 2-1 memberi modal tipis namun berharga bagi Kim Sang-sik menjelang leg kedua.
Di Rajamangala, segalanya berubah. Menit ke-8, Ben Davis membuka keunggulan Thailand dan stadion langsung bergemuruh. Sebelum turun minum, Gajah Perang menambah gol, dan suporter tuan rumah sempat berharap penalti ketika VAR memeriksa insiden di kotak terlarang — namun pemeriksaan berakhir tanpa hadiah penalti. Vietnam tertinggal, tetapi tidak pernah kehilangan struktur. Kim Sang-sik hanya melakukan penyesuaian kecil di ruang ganti, dan hasilnya terasa di babak kedua: Xuân Son mencetak dua gol dalam rentang waktu singkat, ditambah satu gol lagi yang memastikan keunggulan 3-2. Gol kedua Thailand sempat menaikkan tensi, tetapi Vietnam bertahan dengan disiplin hingga peluit akhir. Skor akhir 3-2, agregat 5-3, dan trofi kembali ke Hanoi untuk kali pertama sejak 2018.
Formasi Fleksibel dan Pragmatisme Kim Sang-sik
Yang membedakan Kim Sang-sik dari pendahulunya adalah pragmatisme. Ia tidak terpaku pada satu formasi: di fase grup ia kerap memakai skema tiga bek dengan wing-back yang naik-turun, lalu beralih ke empat bek saat menghadapi lawan yang lebih menguasai bola. Statistik penguasaan bola Vietnam di turnamen ini memang tidak selalu dominan — di beberapa laga hanya sekitar 45 persen — tetapi justru dari situ lahir serangan balik mematikan. Dengan formasi yang disesuaikan lawan, timnya membuktikan bahwa menguasai bola bukan satu-satunya jalan menuju kemenangan.
Di lini depan, Xuân Son menjadi titik tumpu. Striker naturalisasi itu menutup turnamen dengan tujuh gol, menyabet gelar top skor sekaligus pemain terbaik, termasuk dua gol di final leg kedua. Di belakangnya, kapten Nguyễn Quang Hải mengatur ritme dengan umpan-umpan terukur yang menjadi assist bagi banyak gol Vietnam. Pertahanan juga tampil solid: pressing dari lini pertama membuat lawan sering terjebak offside, dan ketika permainan berjalan ketat, kartu kuning lebih banyak menghantam kubu lawan yang frustrasi menghadapi blok bertahan yang rapi.
Warisan Kim Sang-sik dan Tantangan ke Depan
Gelar ini menempatkan Kim Sang-sik di jajaran pelatih tersukses Vietnam modern, sejajar dengan generasi 2018. Namun tantangan berikutnya jauh lebih besar: kualifikasi Piala Asia 2027 dan putaran final Piala Dunia 2026 zona Asia menuntut level yang berbeda. Vietnam harus menghadapi lawan-lawan dengan kualitas individu lebih tinggi, dan tanpa Xuân Son — yang justru mengalami cedera serius di laga final dan harus absen berbulan-bulan — kedalaman skuat akan benar-benar diuji.
Kim Sang-sik sendiri menolak berpuas diri. Ia menekankan bahwa gelar juara hanyalah titik awal, dan regenerasi pemain muda harus berjalan seiring ambisi besar. Dengan pendekatan yang tenang, data-driven, dan penuh perhitungan — dari pemilihan starting XI hingga rotasi di menit ke-60-an pertandingan — pelatih berusia 49 tahun itu kini menjadi simbol harapan baru sepak bola Vietnam. Pertanyaannya bukan lagi apakah Vietnam bisa bersaing, melainkan seberapa jauh Kim Sang-sik sanggup membawa mereka melangkah di panggung yang lebih besar.
Comments (0)