Kane Bungkam ‘Tangan Tuhan’, Inggris Kalahkan Argentina 3-2
LUSAIL, 14 Juli 2026 — Skor akhir 3-2 untuk kemenangan dramatis Inggris atas Argentina di semifinal Piala Dunia 2026, Senin dini hari WIB, menjadi penutup yang epik bagi rivalitas dua generasi: wari...
LUSAIL, 14 Juli 2026 — Skor akhir 3-2 untuk kemenangan dramatis Inggris atas Argentina di semifinal Piala Dunia 2026, Senin dini hari WIB, menjadi penutup yang epik bagi rivalitas dua generasi: warisan ‘Tangan Tuhan’ Maradona yang kini diwakili Lionel Messi, dan era baru yang dipimpin ‘Kaki Dewa’ Harry Kane. Kane mencetak hat-trick, termasuk gol penentu di menit ke-113, membawa Three Lions ke final untuk pertama kalinya sejak 1966, sekaligus memastikan Messi gagal membawa Albiceleste ke partai puncak di Piala Dunia terakhirnya.
Jalannya Pertandingan: Drama 120 Menit yang Tak Terlupakan
Laga dimulai dengan tempo tinggi. Argentina, dengan formasi 4-3-3 khas Lionel Scaloni, langsung menekan. Menit ke-12, Messi melepaskan tendangan bebas melengkung yang nyaris bersarang di pojok kanan atas gawang Jordan Pickford, namun bola membentur tiang. Inggris, yang diturunkan Gareth Southgate dalam pakem 4-2-3-1, merespons lewat serangan balik cepat. Menit ke-23, Bukayo Saka menusuk dari sayap kanan, memberikan umpan tarik ke kotak penalti. Harry Kane dengan tenang menyontek bola ke sudut kiri bawah gawang Emiliano Martínez. Gol! Inggris unggul 1-0. Assist Saka menjadi kunci pembuka.
Argentina tak tinggal diam. Menit ke-39, sebuah umpan silang dari Nahuel Molina disundul Julian Álvarez, bola mengenai lengan John Stones. Wasit menunjuk titik putih setelah mengecek VAR. Messi maju sebagai eksekutor. Dengan dingin, ia mengecoh Pickford dan mencetak gol ke-12-nya di Piala Dunia. Skor imbang 1-1 bertahan hingga turun minum. Babak pertama ditutup dengan statistik penguasaan bola 53% untuk Argentina berbanding 47% Inggris, namun shots on target Inggris lebih tajam: 3 berbanding 2.
Memasuki babak kedua, intensitas semakin meningkat. Menit ke-58, Inggris kembali memimpin. Sebuah skema sepak pojuk pendek dari Declan Rice ke Phil Foden menghasilkan umpan lambung yang disambut sundulan Kane di kotak enam meter. Martínez sempat menepis, tetapi bola sudah melewati garis gawang. Teknologi garis gawang memastikan: 2-1. Namun, keunggulan ini hanya bertahan delapan menit. Menit ke-66, Messi mengirimkan through ball brilian yang memotong lini belakang Inggris, diselesaikan Álvarez dengan chip cerdas melewati Pickford. Skor menjadi 2-2. Assist Messi tercatat sebagai assist ke-9 dalam karier Piala Dunia-nya, menyamai rekor Maradona dan Pelé.
Waktu normal habis tanpa pemenang. Pada babak perpanjangan waktu, momen kontroversial terjadi. Menit ke-103, tendangan jarak jauh Rodrigo De Paul membentur tangan bek Inggris, Ben White. VAR kembali melakukan peninjauan, namun kali ini wasit memutuskan bukan pelanggaran karena posisi tangan dianggap tidak aktif. Argentina memprotes keras, tetapi keputusan tetap. Drama ini mengingatkan kembali hantu ‘Tangan Tuhan’ tahun 1986, hanya saja kali ini Inggris yang selamat dari penalti.
Puncaknya terjadi di menit ke-113. Kombinasi Foden dan Jack Grealish membongkar pertahanan Argentina. Grealish mengirim crossing mendatar yang disambar Kane dengan tendangan voli kaki kiri dari luar kotak penalti. Bola melesat deras ke gawang tanpa mampu dibendung Martínez. Gol hat-trick! Kane menjadi pemain Inggris pertama yang mencetak tiga gol di semifinal Piala Dunia. Skor akhir 3-2 untuk Inggris.
Analisis Taktik dan Statistik Kunci
Pertandingan ini menjadi ajang duel dua filosofi. Argentina mengandalkan penguasaan bola dan kreativitas Messi, dengan total penguasaan bola 55% dan operan sukses mencapai 587, lebih tinggi dari Inggris yang mencatat 478. Namun, Inggris jauh lebih efektif dalam penyelesaian akhir: dari 14 tembakan, 8 tepat sasaran, sementara Argentina hanya 6 dari 18 percobaan. Southgate sukses menetralisasi pressing tinggi Argentina dengan memanfaatkan kecepatan Saka dan Marcus Rashford di sayap, memaksa bek sayap Molina dan Marcos Acuña bertahan lebih banyak. Formasi 4-2-3-1 Inggris bertransisi menjadi 4-4-2 saat bertahan, dengan Rice dan Jude Bellingham bekerja keras memutus aliran bola ke Messi.
Di sisi lain, lini depan Argentina terlalu bergantung pada momen individu Messi dan Álvarez. Ketika Messi dimatikan di babak perpanjangan waktu oleh penjagaan ganda, kreativitas Argentina menurun drastis. Statistik menunjukkan Messi hanya mampu menciptakan 3 umpan kunci sepanjang laga, terendah sepanjang turnamen ini. Sementara itu, Kane tampil luar biasa: ia melepaskan 5 tembakan, 4 tepat sasaran, dan 3 berbuah gol. Rasio konversinya mencapai 60%, jauh di atas rata-rata striker di turnamen ini.
Disiplin juga jadi pembeda. Argentina mengoleksi 4 kartu kuning akibat pelanggaran taktis pada Bellingham dan Saka, sedangkan Inggris hanya 1 kartu kuning. Pelanggaran Argentina total 18 kali, menggambarkan frustrasi menghadapi kecepatan Inggris.
Warisan ‘Tangan Tuhan’ dan Babak Baru Rivalitas
Pertemuan antara Inggris dan Argentina dalam sejarah Piala Dunia selalu diwarnai kontroversi ‘Tangan Tuhan’ Diego Maradona tahun 1986. Kali ini, alih-alih tangan kontroversial, sorotan tertuju pada ketajaman kaki Kane dan assist magis Messi. Momen VAR di babak perpanjangan sempat membangkitkan kembali ingatan lama, tetapi hasil akhir justru menunjukkan bahwa era baru telah datang. Inggris, yang dulu sering dirugikan, kini mampu mengendalikan emosi dan membalas lewat permainan indah.
"Kami tahu beban sejarah. Tapi anak-anak ini menulis cerita mereka sendiri. Harry luar biasa, dia pemimpin sejati," ujar Southgate seusai laga. Sementara itu, Scaloni mengakui keunggulan Inggris: "Kami memberikan segalanya, tapi detail kecil membuat perbedaan. Messi sudah memberikan yang terbaik. Kami bangga."
Bagi Messi, ini adalah akhir dari ambisi gelar Piala Dunia kedua. Di usianya yang ke-39, ia tetap menunjukkan kelas dunia dengan 1 gol dan 1 assist, namun mimpinya pupus oleh keganasan Kane. Kini, Inggris bersiap menghadapi Prancis di final, dengan harapan mengakhiri puasa gelar selama 60 tahun. Argentina harus puas memperebutkan tempat ketiga. Rivalitas klasik ini mungkin menutup bab terakhir Messi, namun memunculkan babak baru: Harry Kane, sang ‘Kaki Dewa’ yang membungkam ‘Tangan Tuhan’ lewat hat-trick legendaris.
Baca juga:
Comments (0)