Kane Bantah Isu Retak Bellingham-Tuchel Usai Semifinal Dramatis

Skor akhir 2-3 untuk Argentina lewat perpanjangan waktu menjadi penutup perjalanan Inggris di semifinal Piala Dunia 2026, Jumat dini hari WIB (16/7). Namun, sorotan justru tertuju pada rumor keretakan...

Kane Bantah Isu Retak Bellingham-Tuchel Usai Semifinal Dramatis

Skor akhir 2-3 untuk Argentina lewat perpanjangan waktu menjadi penutup perjalanan Inggris di semifinal Piala Dunia 2026, Jumat dini hari WIB (16/7). Namun, sorotan justru tertuju pada rumor keretakan antara gelandang muda Jude Bellingham dan pelatih Thomas Tuchel. Harry Kane, kapten The Three Lions, dengan tegas membantah kabar tersebut dalam konferensi pers pascalaga.

Jalannya Pertandingan: Agresi Awal yang Berbuah Petaka

Menit ke-7, Inggris langsung menggebrak. Skema umpan satu-dua antara Declan Rice dan Bellingham di sepertiga akhir membuka ruang tembak. Shots on target pertama hadir lewat sepakan Kane dari luar kotak yang masih bisa ditepis Emiliano Martínez. Formasi 4-2-3-1 racikan Tuchel tampil agresif, memanfaatkan lebar lapangan lewat Bukayo Saka di kanan dan Phil Foden yang menyisir dari kiri. Penguasaan bola Inggris dalam 15 menit awal sempat menyentuh 58%.

Gol pembuka justru lahir dari serangan balik kilat Argentina. Menit ke-19, umpan terobosan Enzo Fernández memecah lini pertahanan Inggris. Lautaro Martínez, yang lolos dari jebakan offside, melepaskan tembakan mendatar ke tiang jauh. 0-1 untuk Argentina. VAR sempat melakukan pengecekan posisi Martínez, tetapi tayangan menunjukkan ia berada onside tipis dari kaki John Stones.

Inggris merespons cepat. Hanya tujuh menit berselang, menit ke-26, Jude Bellingham menyamakan kedudukan. Berawal dari penetrasi Saka di kanan, umpan silang mendatar gagal dihalau bek Nicolás Otamendi, bola muntah langsung disambar Bellingham dari jarak 10 meter. Skor 1-1. Assist tercatat atas nama Saka.

Babak pertama ditutup dengan intensitas tinggi. Argentina nyaris kembali unggul di menit ke-42, andai sundulan Julián Álvarez tidak membentur mistar. Statistik paruh waktu: penguasaan bola Inggris 49% – 51% Argentina, shots on target 4-5, total tembakan 8-9, dan kartu kuning untuk Otamendi (35’) serta Rice (40’).

Babak Kedua: Kartu Merah, Gol Kontroversial, dan Helatan Perpanjangan Waktu

Paruh kedua berjalan makin panas. Menit ke-54, Kieran Trippier menerima kartu kuning kedua setelah melanggar Alejandro Garnacho yang menusuk di sisi kiri. Inggris harus menyelesaikan sisa 36 menit waktu normal dengan 10 orang. Tuchel merespons dengan memasukkan Kyle Walker menggantikan Saka untuk memperkuat sektor kanan.

Meski unggul jumlah pemain, Argentina kesulitan menembus blok rendah 4-4-1 Inggris. Hingga menit ke-75, shots on target Argentina total 7, tetapi baru satu berbuah gol. Gol kedua Argentina akhirnya lahir dari sepakan Marcos Acuña di menit ke-78. Umpan cutback Garnacho gagal dijangkau bek, Acuña melepaskan tembakan first-time melengkung ke pojok atas. 1-2. Assist untuk Garnacho.

Bellingham kembali menunjukkan mental juaranya. Menit ke-88, melalui eksekusi penalti yang dihasilkan setelah handball Lisandro Martínez, Bellingham menceploskan bola ke tengah. Skor 2-2, sekaligus brace-nya di laga ini. Penalti diverifikasi VAR dan dipastikan bola mengenai tangan bek Argentina yang tak dalam posisi natural.

Waktu normal ditutup 2-2. Total shots on target 8-9, penguasaan bola 48%-52% untuk Argentina. Laga berlanjut ke extra time. Di sinilah petaka bagi Inggris: menit ke-108, otot paha Bellingham bermasalah, ia sempat menerima perawatan namun memaksakan diri melanjutkan. Menit ke-116, sepakan jarak jauh Alexis Mac Allister membentur punggung Stones dan berbelok arah. Kiper Jordan Pickford sudah mati langkah. Gol bunuh diri — 2-3. Kapten Argentina itu menjadi pahlawan lewat tembakan spekulasi yang berbuah malapetaka.

Inggris mati-matian mengejar, namun umpan-umpan silang ke kotak penalti Argentina mudah dipatahkan. Statistik akhir: penguasaan bola 47% - 53%, total shots 16-18, shots on target 9-10, tendangan sudut 5-7, offside 2-1. Argentina melaju ke final.

Isu Panas Internal: Kane Luruskan Spekulasi

Seusai laga, rumor perpecahan antara Bellingham dan Tuchel merebak. Beberapa media menyebutkan gestur frustrasi Bellingham saat ditarik di injury time babak kedua (ia sempat diganti taktis oleh Connor Gallagher sebelum penalti, namun masuk kembali) sebagai pemicu. Isu kian liar dengan klaim Bellingham menolak instruksi perubahan formasi Tuchel di masa perpanjangan waktu.

Harry Kane menanggapi dingin. “Kami baru saja kalah di semifinal Piala Dunia. Kami semua emosional. Tapi tidak ada yang namanya konflik antara Jude dan pelatih,” ujar Kane. “Dia pemain paling berani di tim ini. Dua golnya malam ini membuktikan segalanya.”

“Tuchel membuat keputusan taktis untuk melindungi Jude yang sudah menempuh 11,2 km. Tidak ada pertengkaran. Hanya obrolan biasa di lapangan,” tambah Kane.

Tuchel dalam jumpa persnya juga memuji Bellingham. “Dia pemain spesial. Kami berdiskusi soal rotasi pressing, itu saja. Semua rumor itu tidak benar,” tegas pelatih asal Jerman itu.

Jurnalis asal Inggris, Miguel Delaney, mengonfirmasi bahwa suasana ruang ganti memang tegang karena kekalahan, tetapi bukan karena konflik individu. Data GPS dari STATSports mencatat Bellingham berlari 12,8 km hingga menit ke-115, tertinggi di antara pemain Inggris. Angka ini membantah narasi bahwa ia menurunkan intensitas karena perselisihan taktik.

Kemenangan Argentina memastikan mereka menantang pemenang laga Brazil vs Prancis di final. Bagi Inggris, duka semifinal kembali berulang — kali ini diwarnai kontroversi, drama, dan ketangguhan kapten mereka yang mendinginkan suhu internal.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User