Hanya Messi Pewaris Sejati Keajaiban Maradona Kontra Inggris
Skor akhir 2-1 untuk kemenangan Argentina atas Inggris di babak perempat final Piala Dunia 1986 tak pernah benar-benar usai dalam ingatan kolektif sepak bola dunia. Empat dekade berselang, duel dua ra...
Skor akhir 2-1 untuk kemenangan Argentina atas Inggris di babak perempat final Piala Dunia 1986 tak pernah benar-benar usai dalam ingatan kolektif sepak bola dunia. Empat dekade berselang, duel dua raksasa lintas benua itu kembali memanas, dan satu nama abadi menggantung di udara: Diego Armando Maradona. Di tengah tekanan sejarah yang mencekik, hanya satu figur yang diyakini mampu memikul tongkat estafet sang legenda — dan dia adalah Lionel Andrés Messi.
Warisan Azteca: Ketika Maradona Menulis Ulang Sejarah
Menit ke-51, Estadio Azteca. Sebuah bola lambung hasil sapuan tak sempurna lini belakang Inggris melayang di kotak penalti. Maradona melompat, tangan kirinya secara kontroversial menyambut bola melewati Peter Shilton yang menjulang setinggi 183 sentimeter. Gol itu sah. Dunia mengenalnya sebagai "Tangan Tuhan". Namun puncak drama sesungguhnya terjadi empat menit kemudian. Menit ke-55, menerima umpan dari Héctor Enrique di wilayah pertahanan sendiri, Maradona memulai akselerasi sepanjang 60 meter melewati lima pemain Inggris — Peter Beardsley, Peter Reid, Terry Butcher, Terry Fenwick, dan Shilton — sebelum menceploskan bola ke gawang kosong. Gol Abad Ini, demikian FIFA kemudian meresmikannya.
Statistik pertandingan itu merekam data yang hampir tak masuk akal: Argentina hanya mencatatkan penguasaan bola 47 persen berbanding 53 milik Inggris. Namun dua shots on target Maradona menghasilkan dua gol, dari total empat tembakan tepat sasaran La Albiceleste sepanjang 90 menit. Formasi 3-5-2 racikan Carlos Bilardo terbukti efektif meredam agresivitas starting XI Inggris yang diperkuat Gary Lineker, mesin gol turnamen dengan enam gol sepanjang edisi Meksiko tersebut. Kartu kuning untuk Butcher pada menit ke-23 menjadi sinyal kerasnya tensi duel trans-Atlantik ini.
Messi dan Beban Warisan yang Tak Tertanggungkan
Kapten Argentina era modern, Lionel Messi, tak pernah lari dari bayang-bayang Maradona. Dalam setiap langkah kakinya di atas rumput, perbandingan itu selalu hadir — kadang adil, seringkali kejam. Namun data berbicara lebih objektif. Di sepanjang karier internasional melawan tim-tim elite Eropa, Messi telah mengoleksi 14 gol dan 11 assist dari 28 penampilan melawan lima besar negara UEFA. Penguasaan bola rata-rata Argentina saat Messi menjadi poros serangan mencapai 61 persen, kontras tajam dengan era Maradona yang kerap bermain transisi cepat.
Formasi 4-3-3 yang diusung Lionel Scaloni memberi Messi kebebasan sebagai false nine atau playmaker sayap kanan. Dari posisi itu, La Pulga mampu menciptakan rata-rata 3,7 umpan kunci per 90 menit di Copa América dan Piala Dunia terakhir. Sementara itu, Inggris pada era Gareth Southgate tampil dengan blok rendah 4-2-3-1, mengandalkan kecepatan Bukayo Saka dan Phil Foden untuk menusuk dari sisi. Jika duel klasik ini terjadi malam ini, siapa yang akan menjadi pembeda? Hanya Messi — dan tak ada yang lain.
Siapa Lagi Selain Messi?
Pertanyaan retoris itu menggema di setiap sudut Buenos Aires, Rosario, hingga Córdoba. Ángel Di María telah gantung sepatu dari pentas internasional. Julián Álvarez adalah predator kotak penalti mematikan dengan rasio konversi 0,72 gol per 90 menit di level tim nasional, namun ia bukan kreator. Rodrigo De Paul dan Enzo Fernández adalah motor transisi, bukan ilusionis pengubah nasib pertandingan. Statistik menunjukkan Argentina tanpa Messi di lapangan hanya memenangi 38 persen pertandingan kompetitif sejak 2018. Dengan Messi? Angkanya melesat ke 71 persen.
Inggris sendiri bukan lawan sembarangan. Clean sheet yang dijaga Jordan Pickford di sepanjang kualifikasi terakhir mencapai delapan dari sepuluh laga. Declan Rice menjadi gelandang bertahan dengan rata-rata 2,4 tekel sukses dan 1,8 intersep per pertandingan. Namun Messi yang beroperasi di antara garis pertahanan dan tengah — half-space kiri yang legendaris — mampu memecah struktur pertahanan paling disiplin sekalipun. Buktinya? Gol tunggalnya ke gawang Brasil di final Copa América, gol penalti dinginnya di finalissima melawan Italia, hingga momen ajaib melawan Belanda di perempat final Piala Dunia 2022.
Jadi, ketika ribuan pendukung Argentina melantunkan nama Messi sambil membentangkan spanduk bergambar Maradona mengacungkan tangan, mereka sejatinya sedang merapal mantra pengakuan kolektif. Cuma satu manusia yang sanggup mengulang magis sang nomor 10 legendaris di duel panas kontra Inggris — dan manusianya masih mengenakan kaus biru-putih bernomor punggung sepuluh. Hanya Messi.
Comments (0)