Erick Thohir dan Pramono Anung Bahas Persiapan FIFA ASEAN Cup 2026
JAKARTA — Satu pertemuan strategis tersaji di ibu kota pekan ini. Menteri Pemuda dan Olahraga RI, Erick Thohir, menyambangi Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, dengan satu agenda besar di atas meja...
JAKARTA — Satu pertemuan strategis tersaji di ibu kota pekan ini. Menteri Pemuda dan Olahraga RI, Erick Thohir, menyambangi Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, dengan satu agenda besar di atas meja: memastikan Jakarta tampil sebagai tuan rumah yang sempurna untuk FIFA ASEAN Cup 2026. Ini bukan sekadar kunjungan protokoler — ini adalah kick-off koordinasi lintas lembaga menuju salah satu turnamen sepak bola paling bergengsi di kawasan Asia Tenggara.
Agenda Pertemuan: Dari Stadion Hingga Transportasi
Pertemuan berlangsung dalam suasana hangat namun penuh substansi. Erick Thohir, yang juga menjabat sebagai Ketua Umum PSSI, memaparkan sejumlah poin krusial terkait kesiapan infrastruktur. Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) dengan kapasitas 77.193 penonton diproyeksikan menjadi venue utama, sementara Jakarta International Stadium (JIS) yang mampu menampung sekitar 82.000 penonton masuk dalam radar sebagai alternatif berstandar internasional.
Erick menegaskan bahwa setiap detail penyelenggaraan harus berjalan sesuai standar internasional. Menurutnya, Jakarta memiliki modal besar sebagai kota penyelenggara, dan koordinasi erat dengan pemerintah daerah menjadi kunci utama keberhasilan.
Pramono Anung menyambut positif inisiatif tersebut. Pemprov DKI, ujarnya, siap memberikan dukungan penuh dari sisi transportasi publik, pengamanan, hingga manajemen kerumunan — tiga elemen vital dalam penyelenggaraan turnamen besar sekaligus tantangan klasik bagi kota metropolitan sekelas Jakarta.
Mengapa Pertemuan Ini Krusial?
Data berbicara keras. Indonesia mencatat tren penonton fantastis dalam beberapa tahun terakhir — laga-laga Timnas Indonesia di SUGBK nyaris selalu sold out dengan tingkat okupansi di atas 90 persen. Antusiasme publik sepak bola nasional tengah berada di titik tertinggi, dan FIFA ASEAN Cup 2026 adalah panggung sempurna untuk mengonversi energi tersebut menjadi prestasi serta citra positif di mata dunia.
Dari sisi taktis penyelenggaraan, pertemuan ini menegaskan satu hal penting: sinergi pemerintah pusat dan daerah adalah playmaker sesungguhnya di balik layar. Tanpa koordinasi rapi antara Kemenpora, PSSI, dan Pemprov DKI, risiko kegagalan logistik — mulai dari akses penonton, akomodasi tim peserta, hingga mobilitas ofisial — bisa menjadi blunder fatal yang mencoreng reputasi Indonesia sebagai tuan rumah.
Jakarta dalam Sorotan Asia Tenggara
Sebagai salah satu kota dengan basis suporter terbesar di ASEAN, Jakarta memikul beban sekaligus kehormatan. Pengalaman menjadi tuan rumah berbagai event internasional — dari Asian Games 2018 hingga Piala Dunia U-17 2023 — menjadi modal berharga. Pada gelaran Piala Dunia U-17, SUGBK dan JIS membuktikan diri mampu memenuhi standar FIFA, termasuk soal pencahayaan stadion, kualitas rumput lapangan, hingga fasilitas media dan ruang ganti pemain.
Meski demikian, evaluasi tetap berjalan tanpa henti. Standar turnamen internasional terus meningkat dari tahun ke tahun, dan tidak ada ruang untuk berpuas diri. Audit venue, uji coba operasional, hingga simulasi matchday akan digelar jauh sebelum kick-off perdana demi meminimalisasi celah kegagalan.
Apa Langkah Selanjutnya?
Usai pertemuan, kedua pihak sepakat membangun mekanisme koordinasi berkala yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan. Fokus awal diarahkan pada finalisasi venue, penyusunan rencana transportasi matchday, serta program pelibatan suporter dan pelaku UMKM lokal agar dampak ekonomi turnamen benar-benar terasa hingga ke akar rumput.
Targetnya jelas dan ambisius: bukan sekadar sukses menyelenggarakan, tetapi meninggalkan warisan jangka panjang bagi sepak bola Indonesia — dari kualitas infrastruktur, budaya menonton yang tertib, hingga pengalaman panitia lokal dalam mengelola event bertaraf dunia.
Bagi publik sepak bola tanah air, pertemuan ini adalah sinyal positif yang layak disambut optimistis. Persiapan dimulai lebih awal, komunikasi antarpemangku kepentingan berjalan lancar, dan visi besar sudah terpasang sejak sekarang. Kini, bola berada di kaki panitia pelaksana — dan seluruh Indonesia menanti peluit panjang keberhasilan pada 2026 mendatang.
Comments (0)