Eko Yuli Irawan Bidik Rekor Indonesia di Asian Games 2026
Sorot lampu akan kembali menyala di atas platform angkat besi Aichi-Nagoya, Jepang, September 2026 mendatang — dan satu nama Indonesia kembali berdiri di pusat perhatian: Eko Yuli Irawan. Lifter ber...
Sorot lampu akan kembali menyala di atas platform angkat besi Aichi-Nagoya, Jepang, September 2026 mendatang — dan satu nama Indonesia kembali berdiri di pusat perhatian: Eko Yuli Irawan. Lifter berusia 37 tahun itu bukan sekadar mencari medali. Ia membidik satu babak baru dalam sejarah olahraga nasional: menjadi lifter Indonesia paling sukses dalam sejarah Asian Games. Kalau satu medali lagi — warna apa pun — berhasil ia bawa pulang dari Nagoya, rekor koleksi medali Asian Games untuk angkat besi Indonesia resmi berada sepenuhnya di bawah namanya.
Ini bukan misi yang datang tiba-tiba. Eko sudah menapaki panggung multi-event Asia ini sejak era 2010-an, dan hampir setiap edisinya selalu meninggalkan jejak. Kini, dengan Asian Games 2026 tinggal menghitung bulan, seluruh perhitungan — dari program latihan, pemilihan kelas berat, hingga strategi attempt — dirancang mengarah ke satu titik yang sama: podium di Jepang.
Empat Olimpiade, Satu Lembar Sejarah yang Belum Selesai
Resume Eko Yuli Irawan adalah resume yang belum pernah ditulis atlet Indonesia mana pun. Empat medali Olimpiade beruntun — perunggu Beijing 2008, perunggu London 2012, perak Rio 2016, dan perak Tokyo 2020 — menjadikannya atlet Indonesia dengan koleksi medali Olimpiade terbanyak sepanjang masa. Di Tokyo, ia membukukan total angkatan 302 kilogram di kelas 61 kg, hasil dari snatch 137 kg dan clean and jerk 165 kg, hanya kalah dari lifter China, Li Fabin.
Di pentas Asian Games, puncak karier Eko terjadi di rumah sendiri. Pada edisi Jakarta-Palembang 2018, ia mengangkat total 311 kilogram di kelas 62 kg untuk merebut medali emas di hadapan publik Istora Senayan — malam yang masih diingat sebagai salah satu momen terbaik angkat besi Indonesia. Sebelumnya, di Incheon 2014, ia sudah naik podium dengan medali perak. Artinya, Nagoya 2026 berpeluang menjadi edisi ketiga ia membawa pulang medali Asian Games — sebuah capaian yang belum pernah dicapai lifter Indonesia lain dalam sejarah.
Peta Persaingan Kelas 61 Kilogram
Namun jalan menuju rekor itu tidak akan lapang. Kelas 61 kg adalah salah satu kelas paling brutal dalam kalender angkat besi Asia. China masih memiliki kedalaman skuat yang menakutkan, Korea Utara kembali agresif sejak tampil lagi di kompetisi internasional, sementara Thailand dan Vietnam terus memproduksi lifter muda dengan total angkatan di atas 300 kilogram. Margin di kelas ini sering kali ditentukan bukan oleh kekuatan semata, melainkan oleh kecerdasan memilih angkatan pembuka.
Di sinilah pengalaman Eko menjadi senjata. Pola yang ia tunjukkan dalam dua dekade terakhir nyaris selalu sama: attempt pembuka yang aman untuk mengunci total, lalu kenaikan agresif di attempt kedua, dan pertaruhan penuh di attempt ketiga clean and jerk. Satu keputusan tepat — menaikkan dua atau tiga kilogram di momen yang pas — bisa mengubah perak menjadi emas. Dan tidak banyak lifter di dunia yang membaca momen sebaik pria kelahiran Metro, Lampung, ini.
Persiapan Menuju Nagoya dan Hitung-Hitungan Rekor
Tim pelatih PABSI disebut sudah memetakan kalender kompetisi Eko sepanjang 2025 hingga 2026, dengan Kejuaraan Asia dan Kejuaraan Dunia sebagai batu loncatan utama. Fokusnya jelas: menjaga total angkatan di kisaran 300 kilogram sembari mengelola kondisi fisik atlet yang usianya sudah melewati masa emas kebanyakan lifter. “Eko tahu betul tubuhnya sendiri. Programnya sekarang bukan soal menambah beban latihan, tapi menjaga presisi dan kesehatan sampai hari pertandingan,” ujar salah satu anggota tim pelatih.
Skenario rekornya sendiri terbuka lebar. Medali emas di Nagoya akan menjadikannya lifter Indonesia pertama dengan dua emas Asian Games lintas edisi yang terpaut delapan tahun. Bahkan medali perak atau perunggu pun cukup untuk mengukuhkan statusnya sebagai lifter Indonesia dengan koleksi medali Asian Games terbanyak. Angkat besi akan digelar pada paruh pertama Asian Games 2026 yang berlangsung 19 September hingga 4 Oktober, dan seluruh Indonesia akan menanti: satu angkatan terakhir dari sang legenda, untuk satu rekor yang belum pernah disentuh siapa pun.
Comments (0)