Drama 120 Menit: Inggris Tumbangkan Argentina di Semifinal Piala Dunia 2026

New York/New Jersey — MetLife Stadium bergemuruh. Laga sarat gengsi antara Inggris dan Argentina di semifinal Piala Dunia 2026 akhirnya tuntas dengan skor 2-1 lewat perjuangan hingga menit ke-118. G...

Drama 120 Menit: Inggris Tumbangkan Argentina di Semifinal Piala Dunia 2026

New York/New Jersey — MetLife Stadium bergemuruh. Laga sarat gengsi antara Inggris dan Argentina di semifinal Piala Dunia 2026 akhirnya tuntas dengan skor 2-1 lewat perjuangan hingga menit ke-118. Gol kemenangan The Three Lions dicetak oleh Declan Rice yang menjadi pahlawan setelah memanfaatkan crossing Cole Palmer, mengantarkan Inggris ke final pertama sejak 1966. Argentina, meski bermain dengan 10 orang sejak menit ke-70, memberikan perlawanan sengit yang akan selalu dikenang.

Laga ini bukan sekadar perebutan tempat di final, melainkan babak baru rivalitas yang telah menorehkan banyak kontroversi: dari gol ‘Tangan Tuhan’ Maradona hingga kartu merah David Beckham. Pelatih Inggris, Lee Carsley, memilih formasi 4-2-3-1 dengan Harry Kane sebagai ujung tombak, didukung trio Bukayo Saka, Jude Bellingham, dan Phil Foden. Argentina di bawah asuhan Lionel Scaloni memasang 4-4-2 klasik, menduetkan Julian Alvarez dengan sensasi 20 tahun, Claudio Echeverri, di lini depan. Lebih dari 82.000 penonton memadati stadion menyaksikan dua filosofi bertabrakan: agresivitas transisi cepat Inggris melawan organisasi pertahanan plus serangan balik mematikan Argentina.

Babak Pertama: Dominasi Inggris, Alvarez Mengejutkan

Sejak peluit pertama, Inggris tampil dominan. Dengan pressing tinggi dan rotasi posisi konstan, trio Saka-Bellingham-Foden berulang kali menyulitkan lini belakang Argentina. Menit ke-7, umpan liar Cristian Romero sukses dipotong Bellingham. Gelandang Real Madrid itu melepaskan umpan terobosan ke Saka yang tinggal berhadapan dengan kiper Emiliano Martinez, namun penyelamatan satu lawan satu penjaga gawang Aston Villa itu menggagalkan peluang emas. Statistik penguasaan bola 15 menit awal tertulis 62 persen milik Inggris berbanding 38 persen Argentina, dengan akurasi umpan mencapai 91 persen.

Namun, justru Argentina yang sukses membuka skor di menit ke-23 melalui skema serangan balik klinis. Diawali sapuan bek kiri Nicolas Tagliafico, Echeverri mengeksploitasi ruang di belakang Kyle Walker. Dengan sentuhan cepat, ia mengirimkan umpan silang mendatar akurat ke kotak penalti. Julian Alvarez, yang lepas dari kawalan John Stones, menyambut bola dengan voli keras mendatar. Aaron Ramsdale tak mampu menahan laju bola. Argentina unggul 1-0 dan membungkam sementara dukungan suporter Inggris.

Gol tersebut justru memicu amukan Inggris. Saka menjadi mimpi buruk Lisandro Martinez di sisi kanan. Umpan tariknya menghasilkan kemelut di depan gawang pada menit ke-34: tendangan Bellingham membentur tiang, bola rebound disambar Foden namun diblok gemilang oleh Romero nyaris di garis gawang. Dua menit berselang, VAR mengonfirmasi handball Nahuel Molina di kotak terlarang setelah sepak pojok. Harry Kane, algojo utama, menaklukkan Martinez dengan penalti ke pojok kiri bawah. Skor 1-1 menutup babak pertama.

Catatan statistik 45 menit awal menunjukkan betapa dominannya Inggris: shots on target 6-2, total tembakan 11-4, dan 8 tendangan sudut berbanding 1. Argentina hanya mengandalkan efisiensi: dua tembakan tepat sasaran menghasilkan satu gol. Performa defensif Tagliafico dan Romero patut diacungi jempol karena mampu meredam sebagian besar ancaman.

Babak Kedua: Pertarungan Taktik dan Kartu Merah

Selepas jeda, Scaloni menarik gelandang Alexis Mac Allister dan memasukkan Giovani Lo Celso untuk menambah kreativitas di lini tengah. Argentina mencoba mendikte tempo lebih rendah, sementara Inggris menurunkan intensitas demi menjaga stamina. Pertandingan berjalan lebih tertutup dengan banyak duel fisik di area sentral.

Momen krusial terjadi di menit ke-67. Rodrigo De Paul, yang sudah mengantongi kartu kuning dari babak pertama, melakukan tekel tinggi terhadap Bellingham. Wasit asal Rumania, Istvan Kovacs, tanpa ragu memberikan kartu kuning kedua yang berujung kartu merah langsung. Argentina bermain dengan 10 orang sejak menit ke-70. Unggul jumlah pemain langsung dimaksimalkan Carsley dengan memasukkan Cole Palmer dan Marcus Rashford, mengubah formasi menjadi 4-2-2-2 yang lebih ofensif.

Meski tertekan hebat, pertahanan Argentina tampil heroik. Romero memimpin lini belakang dengan 9 sapuan, 3 intersep, dan beberapa blok krusial. Emiliano Martinez melakukan dua penyelamatan spektakuler: menepis tendangan bebas melengkung Foden di menit ke-82 dan menghalau sundulan Kane dari jarak dekat sesaat kemudian. Argentina nyaris mencuri kemenangan di menit ke-88 lewat serangan balik Lo Celso yang hanya diakhiri tendangan melebar Echeverri. Skor 1-1 bertahan, laga berlanjut ke babak tambahan.

Extra Time: Gol Rice dan Kelelahan Argentina

Kelelahan jelas terlihat pada pemain Argentina yang harus bertahan dengan 10 orang. Inggris semakin percaya diri. Palmer dan Rashford menyisir dari kedua sisi, sementara Bellingham tetap menjadi jenderal di lini tengah dengan 4 dribel sukses sepanjang extra time. Menit ke-103, tendangan Saka dari dalam kotak penalti masih bisa ditahan Martinez.

Gol yang ditunggu akhirnya datang di menit ke-118. Setelah serangkaian umpan pendek di sisi kanan, Palmer mengirimkan crossing melengkung ke tiang jauh. Declan Rice, yang bergerak tanpa kawalan, melompat lebih tinggi dari Romero dan mengarahkan sundulan mematikan ke tanah. Bola memantul dan mengecoh Martinez yang terlambat bereaksi. Inggris unggul 2-1, MetLife Stadium meledak.

Argentina putus asa bangkit di sisa waktu. Namun, dua peluang dari sepak pojok berhasil dibendung Ramsdale. Wasit meniup peluit panjang: Inggris ke final, Argentina ke perebutan tempat ketiga.

Statistik dan Moment Penentu

Panel data mencatat penguasaan bola akhir Inggris 58 persen – 42 persen Argentina. Total tembakan 23-8 (shots on target 10-3). Umpan Inggris sebanyak 612 kali dengan akurasi 89 persen, sementara Argentina hanya 387 umpan. Kartu kuning: Inggris 2 (Kane, Rice), Argentina 4 (Romero, De Paul dua, Lo Celso). Kartu merah: De Paul. Tackle bersih: Inggris 14-18. Rice tercatat sebagai pemain dengan jarak tempuh terbanyak (13,2 km) dan memenangi 6 dari 8 duel udara. Golnya di menit 118 menjadi gol paling larut dalam sejarah semifinal Piala Dunia.

Kutipan Pelatih

“Kami sadar laga ini akan menjadi ujian mental terberat. Para pemain tidak pernah menyerah. Kami menciptakan banyak peluang dan layak berada di final. Ini mimpi yang menjadi nyata,” ujar Lee Carsley.
“Saya sangat bangga. Bermain dengan 10 orang selama hampir satu jam melawan tim sekuat Inggris adalah pencapaian luar biasa. Detail kecil menjadi pembeda. Kami akan kembali lebih kuat,” kata Lionel Scaloni.

Kemenangan ini membawa Inggris menanti pemenang laga Prancis melawan Portugal di partai puncak. Argentina akan menghadapi tim yang kalah di laga perebutan peringkat ketiga. Rivalitas Inggris-Argentina kembali melahirkan drama epik yang akan dikenang sebagai salah satu semifinal terbaik sepanjang masa. Tiket final sudah di tangan, sejarah menanti The Three Lions.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
fajar-ramadhan

Editor Hukum. Alumni FH UI. Meliput pengadilan, MA, dan judicial review.

Comments (0)

User