Benteng Rapuh, Hubner Terancam Gagal Perkuat Timnas di AFF 2026
Kabar mengejutkan datang dari kubu Fortuna Sittard. Menjelang gelaran Piala AFF 2026, Justin Hubner dikabarkan belum mendapatkan lampu hijau dari klub Eredivisie tersebut untuk bergabung dengan skuad ...
Kabar mengejutkan datang dari kubu Fortuna Sittard. Menjelang gelaran Piala AFF 2026, Justin Hubner dikabarkan belum mendapatkan lampu hijau dari klub Eredivisie tersebut untuk bergabung dengan skuad Garuda. Situasi ini membuka kembali luka lama yang kerap menghantui Timnas Indonesia setiap kali turnamen regional bergulir — bentroknya jadwal klub dengan agenda tim nasional di luar kalender FIFA. Jika situasi ini tidak menemui titik terang dalam beberapa pekan ke depan, lini pertahanan Timnas Indonesia yang selama dua tahun terakhir bertumpu pada sosok Hubner akan menghadapi ujian berat di panggung Asia Tenggara.
Berusia 22 tahun, Hubner telah mencatatkan 17 caps bersama Timnas Indonesia sejak debutnya pada 2024 silam. Kontribusinya di jantung pertahanan Garuda bukan sekadar angka. Dalam 12 pertandingan terakhir yang ia mainkan penuh selama 90 menit, Indonesia mencatatkan enam clean sheet dan hanya kebobolan delapan gol — rata-rata 0,67 gol per pertandingan. Bandingkan dengan empat laga tanpa kehadirannya di mana Garuda kemasukan sembilan gol, atau 2,25 gol per laga. Data ini memperlihatkan betapa vitalnya peran pemain jebolan akademi Wolverhampton Wanderers itu dalam skema pertahanan pelatih Patrick Kluivert.
Bentrokan Kalender yang Tak Kunjung Usai
Piala AFF 2026 dijadwalkan bergulir pada 23 November hingga 21 Desember mendatang — periode krusial bagi klub-klub Eropa yang sedang menjalani paruh pertama musim kompetisi. Fortuna Sittard sendiri diproyeksikan akan melakoni lima hingga enam pertandingan Eredivisie dalam rentang waktu tersebut, termasuk kemungkinan laga tandang melawan Ajax Amsterdam dan PSV Eindhoven. Dengan status Hubner yang kini menjadi starter reguler — mencatatkan 28 penampilan dan 2.412 menit bermain di musim 2025/26 — melepas sang bek ke turnamen non-FIFA menjadi keputusan yang sulit bagi manajemen klub.
Perlu dicatat, Piala AFF hingga saat ini masih berstatus turnamen di luar kalender resmi FIFA. Artinya, klub tidak memiliki kewajiban hukum untuk melepaskan pemain mereka. Situasi ini bukanlah hal baru. Pada edisi 2024, Indonesia kehilangan sejumlah pemain abroad seperti Jay Idzes dan Sandy Walsh karena alasan serupa. Pola yang berulang ini menimbulkan pertanyaan besar tentang perlunya negosiasi lebih awal antara PSSI dan klub-klub pemilik pemain diaspora Indonesia.
Dampak Langsung pada Skema Pertahanan
Absennya Hubner akan memaksa Patrick Kluivert melakukan reshuffle besar-besaran di lini belakang. Dalam formasi 3-4-3 yang kerap diterapkannya, Hubner biasanya menempati posisi bek tengah kiri — peran yang menuntut kemampuan membaca permainan, distribusi bola akurat, dan duel udara yang dominan. Statistik dari 10 laga terakhirnya bersama Timnas menunjukkan Hubner mencatatkan rata-rata 3,8 sapuan, 2,1 intersepsi, dan 87% akurasi umpan per pertandingan. Angka-angka ini sulit ditandingi oleh bek lokal yang bermain di Liga 1 Indonesia.
Beberapa nama mulai disebut sebagai kandidat pengganti. Muhammad Ferrari dan Rizky Ridho — yang sama-sama bermain di Liga 1 — memiliki pengalaman internasional namun belum menunjukkan konsistensi di level yang sama. Ridho mencatatkan rata-rata 2,4 sapuan per laga di kualifikasi Piala Dunia 2026, sementara Ferrari baru mengantongi delapan caps dan masih dalam proses adaptasi dengan intensitas pertandingan internasional. Opsi lain adalah mengubah formasi menjadi empat bek sejajar untuk mengurangi risiko, namun hal ini akan mengorbankan lebar serangan yang menjadi ciri khas permainan Indonesia di bawah Kluivert.
Negosiasi Genting dan Harapan yang Tersisa
Meski situasi tampak suram, pintu negosiasi belum sepenuhnya tertutup. Sumber internal PSSI menyebutkan bahwa Ketua Umum PSSI telah memulai kontak langsung dengan direktur olahraga Fortuna Sittard sejak awal November 2026. Salah satu poin negosiasi adalah kemungkinan skema pelepasan bertahap — Hubner baru bergabung setelah pertandingan fase grup, atau khusus untuk babak semifinal dan final saja. Skema serupa pernah berhasil diterapkan pada kasus Marselino Ferdinan saat memperkuat Oxford United di ajang Piala Asia 2025.
"Kami memahami posisi klub. PSSI tidak memaksa, tetapi berharap ada solusi yang saling menguntungkan. Justin sendiri sangat ingin memperkuat Timnas. Ini soal komunikasi dan itikad baik," ujar seorang sumber di lingkungan federasi yang enggan disebutkan namanya.
Waktu terus berjalan. Dengan kick-off Piala AFF 2026 yang tinggal tiga pekan lagi, kepastian status Hubner harus segera diperoleh. Jika Fortuna Sittard tetap pada pendiriannya, Indonesia akan memulai turnamen dengan lubang besar di jantung pertahanan — sebuah handicap yang bisa menjadi pembeda antara trofi dan kekecewaan berkepanjangan. Bagi 280 juta rakyat Indonesia yang mendambakan gelar pertama di era emas sepakbola nasional ini, jawaban dari Sittard adalah penentu arah mimpi itu.
Comments (0)