Arsenal Gilas Everton, Zubimendi Pamerkan Dominasi Lini Tengah

Skor akhir 3-1 memantapkan posisi Arsenal di papan atas saat menjamu Everton di Emirates Stadium, Minggu (15/3/2026) malam WIB. Martin Zubimendi mencuri panggung dengan penampilan nyaris sempurna, mem...

Arsenal Gilas Everton, Zubimendi Pamerkan Dominasi Lini Tengah

Skor akhir 3-1 memantapkan posisi Arsenal di papan atas saat menjamu Everton di Emirates Stadium, Minggu (15/3/2026) malam WIB. Martin Zubimendi mencuri panggung dengan penampilan nyaris sempurna, memimpin lini tengah The Gunners lewat satu gol dan assist yang jadi pembeda. Statistik mempertegas dominasi tuan rumah: penguasaan bola 64%, shots on target 8 berbanding 3, serta total operan mencapai 612 berbanding 334 milik The Toffees. Tapi angka-angka itu hanya separuh cerita — Zubimendi adalah arsitek sesungguhnya di balik kemenangan ini.

Babak Pertama: Gol Cepat dan Respons Everton

Arsenal membuka skor begitu cepat lewat skema sepak pojok pada menit ke-6. Gabriel Martinelli menusuk dari sisi kiri, bola liar jatuh ke kaki Zubimendi di tepi kotak penalti. Tanpa ragu, gelandang asal Spanyol itu melepaskan tendangan first-time melengkung ke sudut kiri atas yang tak terjangkau kiper Jordan Pickford — gol ketujuhnya musim ini. Penonton belum selesai merayakan, ketika Everton justru menunjukkan ketangguhan mental. Menit ke-18, James Garner meluncurkan umpan silang akurat dari sisi kanan yang disambut Dominic Calvert-Lewin dengan sundulan keras ke tiang dekat. Skor 1-1. Gol itu sempat diperiksa VAR untuk potensi offside, namun sistem Hawk-Eye memastikan posisi Calvert-Lewin sah beberapa sentimeter di belakang William Saliba.

Selepas gol penyama, Everton menerapkan formasi 4-5-1 yang rapat. Gelandang tengah mereka, Amadou Onana, ditugaskan membayangi pergerakan Zubimendi. Efeknya terasa: sampai menit ke-35, akurasi operan Zubimendi sempat turun ke 78%, lebih rendah dari rata-rata musimnya di 91%. Namun kelas seorang gelandang top terletak pada kemampuannya membaca ulang situasi. Zubimendi perlahan menarik diri lebih dalam ke posisi nomor enam, menjemput bola dari dua bek tengah, lalu mendikte tempo dengan umpan-umpan diagonal ke sayap. Pola ini membuka ruang karena Onana enggan naik terlalu tinggi meninggalkan lini belakang. Arsenal kembali menggenggam kendali.

Babak Kedua: Dua Gol Penentu dan Kartu Merah

Arsenal menggebrak sejak peluit awal paruh kedua. Pada menit ke-53, Zubimendi kembali menjadi kreator. Dari area tengah lapangan, ia melepaskan terobosan vertikal menembus dua lini pertahanan Everton. Martin Odegaard menyambut bola tanpa perlu menyentuh dua kali, cukup menggeser ke Declan Rice yang datang dari lini kedua. Tendangan keras Rice dari luar kotak penalti membentur mistar dalam dan memantul masuk — gol yang tak memberi peluang bagi Pickford. Assist tersebut merupakan assist ke-11 Zubimendi musim ini, menyamai rekor pribadinya dan menempatkannya di peringkat ketiga assist terbanyak Liga Inggris 2025/2026.

Keadaan makin sulit bagi Everton setelah menit ke-68 bek kanan Nathan Patterson menerima kartu kuning kedua akibat tekel telat pada Bukayo Saka. Insiden itu berawal dari serangan balik cepat Arsenal yang dipicu sapuan Zubimendi di kotak penalti sendiri — sebuah transisi defensif-ke-ofensif yang hanya butuh delapan detik. Dengan keunggulan jumlah pemain, Arsenal semakin leluasa mengontrol bola. Menit ke-79, Saka menuntaskan pesta tuan rumah. Menerima umpan pendek dari Rice di kotak penalti, Saka mengecoh satu bek sebelum melesakkan bola ke tiang jauh dengan kaki kiri. Gol ke-18 Saka musim ini sekaligus memastikan tiga poin bagi pasukan Mikel Arteta.

Statistik pasca-pertandingan menunjukan Arsenal mencatatkan total 18 tembakan — terbanyak kedua mereka musim ini di kandang. Delapan di antaranya tepat sasaran. Everton hanya mampu melepaskan enam tembakan, tiga ke gawang. Meski kalah, performa Pickford patut diacungi jempol: kiper nasional Inggris itu melakukan lima penyelamatan penting, termasuk dua aksi refleks dari jarak dekat pada menit-menit akhir yang mencegah skor menjadi lebih besar.

Zubimendi: Panglima Statistik dan Taktik

Jika ada satu nama yang layak menerima penghargaan pemain terbaik, itu Martin Zubimendi. Heatmap-nya memenuhi sepertiga lapangan tengah — dari depan kotak penalti sendiri hingga sepertiga akhir. Ia mencatat 103 sentuhan bola, terbanyak dari semua pemain di atas lapangan. Lebih impresif lagi, akurasi operannya mencapai 94% dari total 89 percobaan, termasuk tiga umpan kunci yang menghasilkan peluang emas. Di aspek defensif, Zubimendi menorehkan empat tekel sukses, dua intersepsi, dan tiga kali memenangkan duel udara — angka yang memperlihatkan betapa lengkapnya kontribusi sang gelandang.

Perbandingan head-to-head dengan Onana menggambarkan jurang perbedaan. Onana—meski menjalankan tugas destruktifnya dengan disiplin—hanya mencatat 47 sentuhan dan akurasi operan 81%. Sementara itu, Zubimendi melakukan tiga kali progressive carries yang langsung mentransformasi ritme serangan Arsenal dari lambat menjadi eksplosif. Lini tengah The Gunners musim ini memang dibangun di atas fondasi Zubimendi. Transfer yang sempat menuai keraguan awal musim lalu itu kini menjadi salah satu rekrutan paling krusial era Arteta. Dari 29 penampilan liga, Zubimendi hanya gagal mencetak kontribusi gol dalam tujuh laga — konsistensi yang menjadikannya kandidat serius Pemain Terbaik Liga Inggris musim 2025/2026.

Dengan tambahan tiga poin, Arsenal menjaga jarak kompetitif di jalur perburuan gelar. Everton yang masih terperangkap di papan tengah harus segera menemukan formula untuk lepas dari ketergantungan pada momen individu. Satu hal yang pasti: malam itu di Emirates, Martin Zubimendi mendikte segalanya — dari ritme, statistik, hingga papan skor.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User