Argentina Tundukkan Spanyol 3-2 di Final Piala Dunia 2026

Skor akhir 3-2 untuk kemenangan Argentina atas Spanyol di Stadion New York New Jersey, East Rutherford, pada Minggu (20/7/2026) dini hari WIB, menutup cerita Piala Dunia 2026 dengan mahakarya dramatis...

Argentina Tundukkan Spanyol 3-2 di Final Piala Dunia 2026

Skor akhir 3-2 untuk kemenangan Argentina atas Spanyol di Stadion New York New Jersey, East Rutherford, pada Minggu (20/7/2026) dini hari WIB, menutup cerita Piala Dunia 2026 dengan mahakarya dramatis. La Albiceleste berhasil mempertahankan mahkota dunia melalui pertarungan sengit selama 90 menit plus injury time melawan La Furia Roja yang menguasai dominasi penguasaan bola sepanjang laga.

Menit ke-12, Argentina membuka keran gol. Starting XI Lionel Scaloni menurunkan formasi 4-4-2 yang kompak dengan Lautaro Martínez dan Julián Álvarez sebagai tandem di lini depan. Sebuah serangan balik cepat dimulai dari Rodrigo De Paul yang memenangkan duel kedua di tengah lapangan. Umpan terobosannya diterima Álvarez yang melepaskan tendangan kaki kanan dari dalam kotak penalti, menembus sudut kanan bawah gawang Unai Simón. Skor 1-0 untuk Argentina.

Spanyol tak tinggal diam. Dengan formasi 4-3-3 andalan Luis de la Fuente, mereka memperlebar lapangan lewat permainan sayap. Menit ke-28, Pedri menyamakan kedudukan. Bermain one-two touch dengan Lamine Yamal di sisi kanan, Pedri membobol gawang Emiliano Martínez melalui tendangan rendah dari tepi kotak penalti. Penguasaan bola Spanyol mencapai 65 persen di 30 menit awal, dengan empat shots on target yang berbahaya. Namun, Argentina terus mengancam lewat transisi cepat.

Babak Pertama: Duel Taktis dan Efisiensi Set Piece

Meski kalah penguasaan bola 38-62 persen, Argentina membuktikan efisiensi taktis mereka. Back four yang dipimpin Cristian Romero dan Lisandro Martínez membangun blok pertahanan rendah yang disiplin dan sulit ditembus. Spanyol kesulitan membuat penetrasi ke kotak penalti meski menguasai ritme permainan melalui trio lini tengah Pedri, Martín Zubimendi, dan Fabián Ruiz.

Menit ke-44, Argentina kembali memimpin. Sebuah tendangan bebas dari Enzo Fernández dari sisi kiri mengarah ke tiang jauh, di mana Lautaro Martínez menerjang untuk menyundul bola ke gawang. Assist dari Fernández mencatatkan kontribusi krusialnya dalam membobol pertahanan Spanyol. Gol tersebut menunjukkan kelemakan La Furia Roja dalam menghadapi bola-bola mati sepanjang turnamen. Skor 2-1 bertahan hingga wasit meniup peluit babak pertama, meski Spanyol sempat mengancam lewat tendangan Lamine Yamal yang ditepis Emiliano Martínez di menit ke-39.

Babak Kedua: VAR, Kartu Merah, dan Gol Penentu

Masuk babak kedua, intensitas tak menurun sedikit pun. Spanyol melakukan substitusi ofensif dengan memasukkan Álvaro Morata pada menit ke-60 untuk memperkuat lini serang. Tekanan bertubi-tubi akhirnya membuahkan hasil di menit ke-71. Nico Williams Jr melepaskan umpan silang melambung dari sisi kiri yang disambut Morata dengan voli sempurna di depan gawang. Emiliano Martínez tak berdaya melihat bola bersarang di sudut atas. Skor imbang 2-2.

Drama puncak terjadi di menit ke-83. Lautaro Martínez dibawa jatuh oleh Aymeric Laporte di dalam kotak penalti saat menerima umpan terobosan. Wasit asal Jerman awalnya tak melihat pelanggaran, namun setelah intervensi VAR yang meninjau rekaman selama dua menit, titik putih diberikan. Lionel Messi, yang masuk sebagai pemain pengganti di menit ke-75 menggantikan Álvarez, mengambil tanggung jawab penuh. Dengan tenang, kapten Argentina mengecoh gerakan Simón dan melesatkan bola ke sisi kanan gawang. Skor 3-2. Messi mencatatkan gol krusial di laga yang menjadi penutup perjalanan internasionalnya.

Menit-menit akhir berjalan sangat menegangkan. Spanyol melepaskan tiga shots on target tambahan, termasuk tendangan keras Lamine Yamal dari luar kotak penalti yang berhasil ditepis Martínez pada menit ke-88. Argentina kehilangan Gonzalo Montiel karena kartu kuning kedua—berubah menjadi merah—di menit ke-90+2 setelah melakukan tactical foul terhadap Williams yang lolos di sisi kanan. Scaloni segera mengubah formasi menjadi 5-3-1 darurat, membuat Spanyol frustrasi dalam membobol barikade pertahanan.

Analisis Data dan Catatan Statistik Akhir

Dari sisi statistik, penguasaan bola akhir 62 persen untuk Spanyol versus 38 persen Argentina. Namun, La Albiceleste jauh lebih klinis dengan lima shots on target dari delapan total tembakan, sementara Spanyol mencatat delapan shots on target dari 18 percobaan. Formasi 4-4-2 Argentina berhasil menetralkan dominasi passing Spanyol yang mencapai 540 umpan sukses dibandingkan 290 milik Argentina.

Emiliano Martínez mencatatkan clean sheet yang gagal tercapai, namun tetap menjadi pahlawan dengan tujuh penyelamatan krusial termasuk dua one-on-one situasi melawan Morata. Di kubu Spanyol, Pedri tampil gemilang dengan satu gol, 92 persen akurasi umpan, dan tiga key passes. Sayangnya, ketidakefektifan lini depan Spanyol dalam memanfaatkan peluang emas menjadi momok utama kekalahan mereka.

"Kami tahu Spanyol akan menguasai bola. Yang penting adalah disiplin taktis dan keyakinan saat transisi. Anak-anak menjalankan rencana dengan sempurna," ujar Scaloni usai laga.

Argentina keluar sebagai juara dunia bertahan, mencatatkan gelar ketiga dalam sejarah mereka setelah 1978 dan 2022. Sementara Spanyol harus puas sebagai runner-up meski menampilkan permainan possession-based yang apik sepanjang turnamen. Skor akhir 3-2 menegaskan bahwa di sepak bola, efisiensi dan mentalitas juara kadang lebih berharga daripada dominasi statistik semata.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
bayu-aji

Investigative Reporter. Spesialisasi: korupsi, pencucian uang, dan kejahatan korporasi.

Comments (0)

User